Ketika AI Jadi Andalan Belajar, Mahasiswa Tak Boleh Kehilangan Nalar
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Rabu, 21 Okt 2026
- visibility 47
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID, Bandung — Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) perlu diimbangi kemampuan berpikir kritis agar manusia tidak menerima informasi secara mentah.
Di tengah kemajuan teknologi, pengguna harus mampu memeriksa kebenaran jawaban AI, mengenali kekeliruannya, dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.
Hal tersebut disampaikan Siddhartha Paul Tiwari, Head of Policy and Planning, Android & Mobile Technologies, Google Asia Pacific, dalam kuliah umum bertajuk “Generative AI and The Future of Indonesia’s Digital Talent” di Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung), Selasa (20/10/2026).
Menurut Siddhartha, AI telah mengubah cara manusia mengakses informasi sekaligus memengaruhi dunia kerja, pendidikan, dan kehidupan sosial.
Perkembangan yang cepat ini menuntut masyarakat untuk terus belajar dan meningkatkan keterampilan agar mampu beradaptasi dengan perubahan.
Mengutip AI Index Report 2026 dari Stanford Institute for Human-Centered Artificial Intelligence (HAI), Siddhartha menyebut tingkat adopsi AI generatif mencapai 53 persen dalam tiga tahun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa teknologi ini diadopsi lebih cepat dibandingkan internet dan komputer personal pada tahap perkembangan yang sama.
Kemajuan AI juga terlihat dari kemampuannya menjalankan tugas melalui komputer.
Dalam pengujian OSWorld, tingkat keberhasilan sistem AI terbaik meningkat dari sekitar 5 persen pada 2024 menjadi 66,3 persen pada 2025.
Namun, peningkatan kemampuan tersebut tidak berarti AI selalu menghasilkan jawaban yang benar.
Siddhartha mengingatkan bahwa teknologi ini masih memiliki keterbatasan sehingga setiap informasi yang dihasilkan perlu diperiksa sebelum digunakan sebagai rujukan.
“AI bisa sangat canggih dalam menjawab persoalan ilmiah tingkat doktoral, tetapi pada saat yang sama masih bisa keliru membaca jam analog. Oleh karena itu, kita harus memeriksa jawabannya sebelum mempercayainya,” ujarnya.
Peringatan tersebut menjadi penting bagi mahasiswa yang semakin sering menggunakan AI untuk menunjang aktivitas akademik.
Kemudahan memperoleh jawaban tidak boleh membuat mahasiswa kehilangan kebiasaan membaca, menguji argumen, dan membangun pemahaman secara mandiri.
Keterampilan Manusia Tetap Dibutuhkan
Dalam dunia kerja, Siddhartha menilai perkembangan AI tidak semata-mata perlu dipandang sebagai ancaman terhadap lapangan pekerjaan.
Teknologi tersebut juga dapat mengubah jenis pekerjaan, melahirkan peran baru, dan meningkatkan kebutuhan terhadap keterampilan tertentu.
Ia mencontohkan kekhawatiran pegawai bank ketika komputer mulai digunakan di kantor-kantor cabang.
Pada masa itu, sebagian pegawai khawatir kehadiran komputer akan menggantikan pekerjaan mereka.
Namun, seiring perkembangan teknologi, sektor perbankan dan keuangan turut berkembang serta membuka peluang kerja baru.
Menurut Siddhartha, perubahan teknologi perlu direspons dengan kemauan untuk mempelajari keterampilan baru. Penguasaan teknologi saja tidak cukup tanpa kemampuan manusiawi yang membantu seseorang mengambil keputusan dan menyelesaikan persoalan secara tepat.
“Kompetensi masa depan perlu menggabungkan penguasaan teknologi dan kemampuan manusiawi. Keterampilan teknis seperti AI, analisis data, jaringan, dan keamanan siber perlu berjalan beriringan dengan kreativitas, pertimbangan yang matang, ketangguhan, serta kemampuan beradaptasi,” katanya.
Bagi perguruan tinggi, tantangan tersebut tidak cukup dijawab dengan mengajarkan cara menggunakan AI.
Kampus juga perlu membentuk mahasiswa yang mampu memanfaatkan teknologi secara bijak, memverifikasi informasi, dan mempertanggungjawabkan hasil pekerjaan yang dibuat dengan bantuan AI.
Siddhartha mengutip survei terhadap mahasiswa sarjana di Inggris yang menunjukkan bahwa 95 persen responden menggunakan AI dalam berbagai bentuk, sedangkan 94 persen memanfaatkannya untuk mendukung tugas perkuliahan.
Data tersebut menunjukkan luasnya penggunaan AI dalam lingkungan akademik sekaligus pentingnya penguatan literasi digital.
Mahasiswa, lanjutnya, tidak cukup hanya mampu memberikan instruksi atau prompt kepada AI. Mereka perlu menilai kualitas jawaban, mengenali informasi yang keliru, serta menentukan kapan suatu persoalan membutuhkan penalaran dan pertimbangan manusia.
Dengan kemampuan tersebut, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu belajar dan bekerja, bukan sebagai pengganti proses berpikir. Mahasiswa tetap perlu memahami materi, memeriksa sumber, dan memastikan bahwa hasil pekerjaan yang disampaikan dapat dipertanggungjawabkan.
Kuliah umum tersebut berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, dan diikuti sekitar 1.200 mahasiswa. Diskusi berlangsung interaktif, dan Siddhartha menyampaikan komitmennya untuk kembali berkunjung ke UM Bandung. ***
- Penulis: Feri Anugrah
