Kamis, 8 Okt 2026

Bukan Cuma Soal Gaji, Begini Cara Mengatur Keuangan Keluarga Agar Lebih Mandiri

  • account_circle Feri Anugrah
  • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
  • visibility 64
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

GENHALAL.ID, Bandung — Penghasilan besar setiap bulan, misalnya, belum tentu membuat keuangan keluarga aman.

Jika uang yang masuk setiap bulan langsung habis untuk belanja dan membayar utang, pendapatan berapa pun bisa terasa kurang.

Oleh karena itu, kemandirian ekonomi keluarga tidak selalu harus dimulai dengan mencari penghasilan tambahan.

Dosen Prodi Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Yudi Haryadi justru mendorong masyarakat untuk lebih dulu memperbaiki cara mengelola uang.

Hal itu disampaikan Yudi dalam kegiatan Sosialisasi Ekonomi Syariah di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Bandung, belum lama ini.

Menurut Yudi, salah satu kebiasaan yang perlu diubah adalah pola menggunakan uang setelah menerima penghasilan.

Banyak orang memilih memenuhi berbagai kebutuhan lebih dulu, sementara menabung baru dilakukan jika masih ada sisa.

Padahal, menurutnya, tabungan atau investasi sebaiknya langsung disisihkan sejak awal.

Dengan cara ini, keluarga memiliki dana cadangan sekaligus mulai menyiapkan kebutuhan di masa depan.

“Jangan menunggu ada sisa untuk menabung. Justru tabungan atau investasi harus menjadi salah satu prioritas sejak awal menerima pendapatan,” ujar Yudi.

Yudi juga memperkenalkan formula sederhana 10-30-50-10 sebagai salah satu acuan mengatur pendapatan.

Minimal 10 persen untuk tabungan atau investasi, maksimal 30 persen untuk cicilan atau utang, maksimal 50 persen untuk kebutuhan rutin, dan 10 persen untuk kebutuhan pribadi.

Formula tersebut tentu dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga.

Namun, prinsip utamanya adalah setiap pendapatan perlu memiliki tujuan yang jelas agar pengeluaran tidak berjalan tanpa kendali.

Pengelolaan seperti ini juga membantu keluarga membangun dana darurat, mengurangi ketergantungan pada utang, dan membuat rencana keuangan lebih terukur.

“Jadi, kemandirian ekonomi bukan semata-mata tentang bagaimana meningkatkan penghasilan, tetapi bagaimana kita mampu mengendalikan dan mengarahkan uang sesuai dengan tujuan hidup,” kata Yudi.

Tak hanya soal mengatur pendapatan, Yudi juga mengingatkan pentingnya memahami pembiayaan syariah.

Masyarakat perlu mengenal lembaga seperti Lembaga Keuangan Mikro Syariah (LKMS) dan Koperasi Simpan Pinjam dan Pembiayaan Syariah (KSPPS).

Ketika membutuhkan pembiayaan, masyarakat sebaiknya tidak hanya melihat seberapa cepat uang bisa diperoleh.

Akad, kemampuan membayar, risiko, kebutuhan, dan manfaat pembiayaan juga perlu dipertimbangkan.

Literasi keuangan syariah, menurut Yudi, penting agar masyarakat tidak mudah terjebak rentenir atau mengambil pembiayaan yang justru memperberat kondisi ekonomi keluarga.

Pada akhirnya, mengelola keuangan bukan sekadar soal mendapatkan uang lebih banyak.

Yang tak kalah penting adalah mengetahui ke mana uang harus diarahkan agar kebutuhan hari ini terpenuhi tanpa mengorbankan kehidupan di masa depan.

Dalam perspektif ekonomi syariah, pengelolaan keuangan juga berkaitan dengan nilai amanah, keadilan, ta’awun, dan ukhuwah.

Artinya, kekuatan ekonomi keluarga diharapkan tidak hanya bermanfaat bagi diri sendiri, tetapi juga memberi dampak positif bagi lingkungan.

Kegiatan tersebut merupakan hasil kolaborasi Komisi Ekonomi MUI Jawa Barat dan Program Pengabdian Dosen Prodi Ekonomi Syariah UM Bandung.

Acara ini diikuti puluhan ibu-ibu anggota Forum Silaturahmi Majelis Taklim (FSMT) Kelurahan Cipadung Kidul.***(FA)

  • Penulis: Feri Anugrah

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kutukan itu Mitos. Bangkitlah Ibu Pertiwiku..

    Kutukan itu Mitos. Bangkitlah Ibu Pertiwiku..

    • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
    • account_circle Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.
    • visibility 36
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID — Di umur ke-81 ini, kita masih melihat lebih banyak kabar duka. Merosotnya kelas menengah, semakin banyaknya pelaku ekonomi tanpa perlindungan: ojek online, kaki lima, pekerja informal. Anggaran yang mengerut menyebabkan daerah menerit, banyak akun BPJS warga dinon-aktifkan sehingga biaya kesehatan per orang seret. Hasil bumi mineral dan tambang kita lebih banyak dikuasai segelintir orang. […]

  • Dari Madrasah ke FH UI, Fawwaz Farhan Farabi Serukan Integritas dan Keberpihakan pada Keadilan

    Dari Madrasah ke FH UI, Fawwaz Farhan Farabi Serukan Integritas dan Keberpihakan pada Keadilan

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 28
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID — Muhammad Fawwaz Farhan Farabi tampil sebagai keynote speaker sekaligus menyampaikan sambutan mewakili wisudawan pada acara Farewell Pelepasan Wisudawan dan Wisudawati Fakultas Hukum Universitas Indonesia Semester Genap 2025/2026 yang berlangsung di Balai Sidang dan Auditorium Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Selasa (25/8/2026). Di hadapan ribuan hadirin yang terdiri atas pimpinan fakultas, dosen, guru besar Fakultas […]

  • Sampah Dapur Jangan Langsung Dibuang, Mahasiswa KKN UM Bandung Kenalkan Cara Mengolahnya

    Sampah Dapur Jangan Langsung Dibuang, Mahasiswa KKN UM Bandung Kenalkan Cara Mengolahnya

    • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
    • account_circle Feri Anugrah
    • visibility 20
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID, Bandung — Sampah dapur sering kali berakhir begitu saja di tempat pembuangan. Padahal, jika dikelola dengan cara yang tepat, sisa makanan dan sampah organik rumah tangga bisa diolah sejak dari rumah. Hal inilah yang coba dikenalkan Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kelompok KKN Dukuh 1 kepada masyarakat Desa Dukuh, Kecamatan […]

  • Agama di Era AI, Tantangannya Bukan Bertahan Tapi Harus Tetap Relevan

    Agama di Era AI, Tantangannya Bukan Bertahan Tapi Harus Tetap Relevan

    • calendar_month Senin, 5 Okt 2026
    • account_circle Feri Anugrah
    • visibility 13
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID.COM, Bandung — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menilai agama tidak akan kehilangan relevansinya di tengah modernisasi dan sekularisasi. Sebaliknya, agama tetap memiliki masa depan jika mampu beradaptasi dengan perubahan dan menghadirkan nilai yang nyata dalam kehidupan masyarakat. Hal itu disampaikan Haedar saat peluncuran buku yang berjudul “Muhammadiyah dan Masa Depan Agama” karya […]

  • Tutup KUII ke-8, Pentingnya Cita Peradaban Islam dan Urgensi Literasi Ekonomi Syariah

    Tutup KUII ke-8, Pentingnya Cita Peradaban Islam dan Urgensi Literasi Ekonomi Syariah

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 34
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID — Menteri Agama (Menag), Nasaruddin Umar, mengimbau umat Islam Indonesia untuk mengambil peran strategis sebagai episentrum peradaban Islam dunia di masa depan. Bersamaan itu, Menag juga menggarisbawahi urgensi penguatan literasi ekonomi syariah. Hal tersebut disampaikan Menag saat memberikan sambutan pada Penutupan Kongres Umat Islam Indonesia (KUII) ke-8 dan Milad ke-51 Majelis Ulama Indonesia (MUI) […]

  • Realita Biaya Pembuatan Sertifikat Halal dan Strategi Lolosnya

    Realita Biaya Pembuatan Sertifikat Halal dan Strategi Lolosnya

    • calendar_month Kamis, 17 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 49
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID — Pengurusan sertifikat halal kini jauh lebih transparan karena tarifnya disesuaikan langsung dengan skala usaha Anda. Pelaku usaha mikro dan kecil (UMK) bahkan bisa memanfaatkan program fasilitasi gratis yang rutin dibuka oleh pemerintah. Sementara itu, untuk skala usaha menengah hingga besar, biayanya berkisar dari jutaan hingga belasan juta rupiah, tergantung pada tingkat kerumitan produk dan […]

expand_less