Kamis, 8 Okt 2026

Algoritma Media Sosial Ikut Membentuk Cara Umat Islam Memahami Agama

  • account_circle Feri Anugrah
  • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
  • visibility 29
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

GENHALAL.ID, Bandung — Teknologi digital kini ikut mengubah cara umat Islam mencari ilmu, memahami agama, menjalankan ibadah, dan mengekspresikan keberagamaan.

Jika sebelumnya pengetahuan agama banyak diperoleh melalui masjid, pesantren, madrasah, majelis taklim, dan guru, kini berbagai informasi keislaman dapat diakses hanya melalui gawai.

Wakil Dekan Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Yudi Daryadi mengatakan, perubahan tersebut merupakan bagian dari perkembangan teknologi informasi yang membuat masyarakat semakin terkoneksi.

“Ruang digital turut mengubah pola hubungan sosial dan sumber pengetahuan masyarakat. Interaksi yang sebelumnya banyak berlangsung secara langsung kini bergeser ke media sosial dan berbagai platform digital,” ujar Yudi, seperti dikutip dari GSM Aisyiyah Jawa Barat, Jumat (02/10/2026).

Mudah Belajar Agama, Tetap Perlu Guru

Menurut Yudi, ruang digital juga menjadi tempat baru bagi masyarakat dalam mencari ketenangan dan pemenuhan spiritual.

Berbagai kajian, ceramah, diskusi, dan konten keislaman kini tersedia di TikTok, YouTube, Instagram, dan platform lainnya.

Kondisi ini memberikan manfaat karena masyarakat memiliki akses yang lebih luas terhadap pengetahuan agama. Namun, kemudahan tersebut juga perlu disertai sikap kritis.

Pasalnya, tidak semua konten keagamaan dibuat oleh orang yang memiliki latar belakang keilmuan yang memadai.

“Ruang digital ini memunculkan aktor-aktor baru di luar arus utama,” kata Yudi.

Oleh karena itu, umat Islam perlu membiasakan diri memeriksa siapa yang menyampaikan informasi, apa sumbernya, dan bagaimana dasar keilmuannya.

Yudi juga menyoroti kecenderungan “muslim tanpa masjid”, istilah yang merujuk pada pemikiran Kuntowijoyo.

Fenomena ini menggambarkan kecenderungan sebagian masyarakat memperoleh pengetahuan dan pengalaman keberagamaan melalui ruang digital, tanpa banyak berinteraksi dengan lembaga atau komunitas keagamaan secara langsung.

Menurut Yudi, kondisi tersebut memiliki sisi positif sekaligus tantangan.

Ruang digital dapat membuka akses terhadap ilmu agama dan mendorong pencarian spiritualitas.

Namun, proses belajar agama tanpa bimbingan guru juga berisiko menimbulkan pemahaman yang tidak utuh.

“Satu sisi, kecenderungan masyarakatnya bagus kepada hal-hal yang spiritual, tetapi di sisi lain, bahaya juga kalau tanpa guru,” tegasnya.

Jangan Jadikan Media Sosial Satu-satunya Rujukan

Perubahan teknologi juga membuat praktik keberagamaan semakin mudah ditampilkan di ruang publik.

Aktivitas ibadah yang sebelumnya bersifat personal kini dapat dibagikan melalui media sosial.

Keberagamaan akhirnya tidak hanya menjadi praktik spiritual, tetapi juga bagian dari cara seseorang menunjukkan identitas.

“Cara beragama di ruang sekarang itu bukan saja saya melakukan ibadah, tapi saya sedang menunjukkan identitas,” ujar Yudi.

Karena itu, umat Islam perlu membedakan antara belajar agama melalui media digital dan menjadikan media sosial sebagai satu-satunya sumber pemahaman agama.

Media digital dapat menjadi sarana untuk mendapatkan wawasan awal. Namun, pemahaman yang lebih mendalam tetap membutuhkan proses belajar, dialog, serta bimbingan dari guru yang memiliki kompetensi keilmuan.

Waspadai Pengaruh Algoritma

Yudi juga mengingatkan adanya pengaruh algoritma terhadap informasi yang dikonsumsi pengguna.

Konten yang sering ditonton, disukai, dan dibagikan akan lebih banyak muncul dalam linimasa.

Akibatnya, seseorang dapat terus-menerus berada dalam lingkungan informasi yang memiliki corak pemikiran serupa.

“Produksi pengetahuan itu berdasarkan rumus algoritma. Kalau itu terus diulang-ulang, ya sudah, itu sebagai ruang pengetahuan bagi kita,” ujarnya.

Karena itu, umat Islam perlu memiliki literasi digital agar tidak mudah menerima informasi hanya karena sering muncul di media sosial.

Salah satu langkah sederhana adalah tidak langsung percaya, memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan bertanya kepada orang yang memiliki kompetensi keilmuan.

Dengan cara tersebut, teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperluas wawasan tanpa menghilangkan tradisi belajar agama yang menekankan ilmu, adab, dan bimbingan.

Keberagamaan Harus Berdampak

Menurut Yudi, kualitas keberagamaan tidak cukup dilihat dari banyaknya konten agama yang ditonton atau aktivitas ibadah yang ditampilkan di media sosial.

Pemahaman agama seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari, terutama dalam hubungan dengan sesama manusia dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Dalam perspektif Muhammadiyah, kesalehan personal perlu berjalan bersama kesalehan sosial. Ilmu agama tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam tindakan yang memberikan manfaat.

“Kita tidak bisa mematok orang menjadi harus begini, harus begitu. Namun, ya itulah risikonya ruang digital,” katanya.

Karena itu, perkembangan teknologi perlu disikapi dengan bijak. Umat Islam tidak harus menjauhi ruang digital, tetapi perlu menggunakannya secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.

Pada akhirnya, teknologi hanyalah sarana. Yang terpenting adalah bagaimana ilmu yang diperoleh di ruang digital mampu memperkuat iman, memperbaiki akhlak, dan menghadirkan kemanfaatan bagi kehidupan masyarakat.***(FA)

  • Penulis: Feri Anugrah

Rekomendasi Untuk Anda

  • Fathul Wahid Ajak Mahasiswa UM Bandung Rajin Membaca Buku untuk Memahami Realitas Pendidikan

    Fathul Wahid Ajak Mahasiswa UM Bandung Rajin Membaca Buku untuk Memahami Realitas Pendidikan

    • calendar_month Sabtu, 26 Sep 2026
    • account_circle Feri Anugrah
    • visibility 30
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID, Bandung — Wakil Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Fathul Wahid mengajak mahasiswa baru UM Bandung rajin membaca berbagai buku. Khususnya buku yang berkaitan dengan tema-tema pendidikan. Dalam rangkaian Pesonamu UM Bandung, Selasa (22/9/2026), Fathul yang juga Rektor Universitas Islam Indonesia (UII) periode 2018–2026 merekomendasikan novel karyanya berjudul “Sekolah Terakhir” sebagai […]

  • Bagaimana RI Memanfaatkan Kesepakatan Xi Jinping – al-Sisi?

    Bagaimana RI Memanfaatkan Kesepakatan Xi Jinping – al-Sisi?

    • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
    • account_circle Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.
    • visibility 35
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID — Awal September lalu, Xi Jinping bertandang ke Mesir. Selain sepakat soal penggunaan mata uang lokal (yuan-pound) dalam perdagangan, energi hijau, dan kecerdasan buatan, Xi dan Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi menegaskan komitmen memperluas Kawasan Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan China-Egypt TEDA Suez (TEDA SETZ) ke Fase 3.   Kenapa ini penting bagi Indonesia? Karena […]

  • Aturan Logo Halal Indonesia Terbaru: Batas Wajib & Solusi Pelaku Usaha

    Aturan Logo Halal Indonesia Terbaru: Batas Wajib & Solusi Pelaku Usaha

    • calendar_month Senin, 28 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 30
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID — Bentuk simbol halal yang berlaku di Indonesia saat ini mengusung motif wayang kulit dengan perpaduan warna ungu serta hijau turkois. Desain ini diterbitkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal untuk menggantikan lambang lama Majelis Ulama Indonesia. Standar visual baru tersebut wajib dicantumkan pada kemasan produk yang beredar secara sah di seluruh wilayah nusantara. […]

  • Lima Fondasi Kehidupan Menurut Islam di Tengah Gempuran Revolusi Industri 5.0

    Lima Fondasi Kehidupan Menurut Islam di Tengah Gempuran Revolusi Industri 5.0

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • account_circle Feri Anugrah
    • visibility 26
    • 0Komentar

    BANDUNGMU.COM, Bandung – Pesatnya perkembangan teknologi dan hadirnya Revolusi Industri 5.0 membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Namun, di tengah kemajuan tersebut, manusia dituntut untuk tidak kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan. Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Bandung Hendar Riyadi menyebut Islam memiliki lima pilar penting yang dapat menjadi fondasi kehidupan manusia […]

  • Tim Dosen UM Bandung Hadirkan Timbangan IoT Ramah Anak untuk Perkuat Layanan Posyandu

    Tim Dosen UM Bandung Hadirkan Timbangan IoT Ramah Anak untuk Perkuat Layanan Posyandu

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
    • account_circle Feri Anugrah
    • visibility 25
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID, Bandung – Pemanfaatan teknologi di layanan kesehatan masyarakat terus didorong agar semakin praktis dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat. Melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PKM), tim Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menghadirkan inovasi untuk membantu Posyandu Mayasari 3 meningkatkan layanan pemantauan tumbuh kembang balita sekaligus memperkuat edukasi bagi orang tua. Program bertajuk “Pemberdayaan Posyandu melalui […]

  • Jangan Tunggu Tua, Mahasiswa Perlu Mulai Menyiapkan Masa Depan Finansial

    Jangan Tunggu Tua, Mahasiswa Perlu Mulai Menyiapkan Masa Depan Finansial

    • calendar_month Rabu, 16 Sep 2026
    • account_circle Feri Anugrah
    • visibility 42
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID, Bandung — Masa kuliah sering kali identik dengan tugas, organisasi, nongkrong, dan mulai mencari pengalaman kerja. Namun, ada satu hal yang tak kalah penting untuk dipikirkan sejak sekarang: bagaimana kondisi finansial di masa depan? Bagi Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Ayi Yunus Rusyana, menyiapkan masa depan tidak cukup hanya dengan mengejar prestasi […]

expand_less