Memahami Al-Ma’un Ala KH Ahmad Dahlan, Iman Harus Berdampak bagi Sesama
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Jumat, 18 Sep 2026
- visibility 32
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID, Bandung – Keimanan seorang muslim tidak hanya tercermin dari ketekunannya menjalankan ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga dari sikap dan kepeduliannya terhadap sesama, termasuk kepada tetangga.
Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dikdik Dahlan Lukman mengatakan, kepedulian terhadap sesama merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari penghayatan tauhid.
Hal itu disampaikan Dikdik dalam program GSM Aisyiyah Jawa Barat bertema “Sisi Humanisme KH Ahmad Dahlan: Dari Tauhid, Al-Ma’un, hingga Kemanusiaan”, Kamis (17/09/2026).
Menurut Dikdik, tauhid menjadi benang merah risalah para nabi sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, umat Islam perlu memahami bahwa seluruh nabi membawa ajaran untuk mengesakan Allah SWT.
“Benang merah risalah para nabi adalah tauhid. Harus kita pahami bahwa semua nabi mengajarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah SWT,” jelasnya.
Dikdik menjelaskan, Islam dapat dipahami dalam pengertian umum dan khusus. Secara umum, Islam merupakan ajaran yang Allah SWT turunkan melalui para nabi. Meski terdapat perbedaan ketentuan syariat pada setiap zaman, pokok ajarannya tetap sama, yakni tauhid.
Sementara dalam pengertian khusus, Islam merujuk pada ajaran yang Allah SWT turunkan melalui Al-Qur’an dan sunah Rasulullah SAW. Dengan demikian, syariat yang menjadi pedoman umat Islam saat ini adalah syariat Nabi Muhammad SAW.
“Syariat yang berlaku hari ini adalah syariatnya Rasulullah SAW,” katanya.
Dari pemahaman tersebut, Dikdik menegaskan bahwa keberagamaan tidak boleh berhenti pada hubungan manusia dengan Allah SWT. Keimanan juga membawa amanah untuk membangun hubungan yang baik dengan lingkungan sosial.
Mengutip pandangan Imam Al-Maraghi, Dikdik menjelaskan tiga amanah manusia. Pertama, amanah ilahiah berupa menjaga dan menegakkan tauhid.
Kedua, amanah syariat dengan menjalankan ketentuan agama seperti salat dan puasa. Ketiga, amanah kepada sesama manusia yang diwujudkan melalui sikap saling menghormati dan memuliakan.
Amanah kepada sesama, lanjut Dikdik, tidak hanya ditujukan kepada orang-orang terdekat, tetapi juga kepada tamu, saudara, dan tetangga. Oleh karena itu, menjaga hubungan baik dengan tetangga menjadi salah satu bentuk nyata pengamalan keimanan.
Dikdik mengingatkan, seorang muslim tidak cukup hanya memperhatikan kualitas ibadah pribadinya. Ia juga harus memastikan kehadirannya tidak merugikan atau menyakiti orang-orang di sekitarnya.
“Kalau kehadiran seseorang di lingkungan masyarakat malah menjadi duri atau pembuat masalah, baik melalui lisan, kata-kata, maupun perilakunya, maka perlu dipertanyakan penghayatan keimanannya,” tandasnya.
Dalam konteks pemikiran KH Ahmad Dahlan, Dikdik mengatakan tauhid yang benar semestinya melahirkan kepedulian terhadap manusia. Keimanan tidak cukup hanya diyakini dan diucapkan, tetapi harus diwujudkan melalui amal yang memberikan manfaat.
Menurutnya, hal tersebut tercermin dalam cara Ahmad Dahlan menghayati QS Al-Ma’un. Ajaran agama tidak berhenti pada membaca dan memahami teks, tetapi diterjemahkan menjadi tindakan nyata untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
Oleh karena itu, kepedulian tidak cukup diwujudkan dalam bentuk rasa iba. Kepedulian perlu diterjemahkan menjadi gerakan yang terorganisasi agar mampu menghadirkan pelayanan sosial, kesehatan, dan pendidikan bagi masyarakat.
“Islam tidak hanya diyakini, tetapi harus dihadirkan dalam kehidupan,” demikian gagasan Ahmad Dahlan yang menjadi dasar arah humanisme tersebut.
Dikdik menegaskan, tauhid, ibadah, dan hubungan kemanusiaan merupakan rangkaian yang saling berkaitan dalam kehidupan seorang muslim.
Keimanan yang dihayati secara utuh, menurutnya, akan tercermin dalam cara seseorang memperlakukan dan memberikan manfaat bagi sesama.***
- Penulis: Feri Anugrah
