Kamis, 8 Okt 2026

Jika Masjid Hidup, Umat Akan Tumbuh dan Peradaban Akan Bangkit

  • account_circle Feri Anugrah
  • calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
  • visibility 31
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

GENHALAL.ID, Bandung — Masjid jangan hanya ramai ketika azan berkumandang. Rumah Allah semestinya tidak berhenti menjadi tempat menunaikan salat.

Namun, juga hadir sebagai ruang tempat umat belajar, memperbaiki akhlak, memperkuat persaudaraan, dan menebar manfaat.

Pesan tersebut disampaikan Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bandung Cecep Taufikurrohman MA PhD saat menjadi pembicara dalam Program GSM Aisyiyah Jawa Barat pada Kamis (3/9/2026).

Buya Cecep, sapaan akrabnya, mengajak umat Islam untuk kembali bertanya tentang makna memakmurkan masjid.

Sebab, kemakmuran masjid tidak cukup hanya dilihat dari megahnya bangunan, ramainya jamaah saat waktu salat, atau banyaknya kegiatan yang tercatat dalam agenda.

Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah apakah masjid benar-benar hidup dan memberi pengaruh bagi kehidupan umat.

“Memakmurkan masjid bukan hanya membangun fisiknya, tetapi bagaimana umat Islam bisa menghidupkan fungsi dan aktivitasnya,” ujarnya.

Masjid, kata Buya Cecep, idealnya menjadi tempat bertemunya iman, ilmu, akhlak, ukhuwah, dan amal sosial.

Masjid tidak hanya membentuk kesalehan pribadi, tetapi mendorong lahirnya kepedulian dan kebaikan di tengah masyarakat.

Gambaran tersebut dapat dilihat dari keteladanan Masjid Nabawi pada masa Rasulullah SAW.

Ketika itu, masjid bukan sekadar tempat salat. Namun, menjadi pusat pendidikan, pertemuan umat, pelayanan sosial, dan pembinaan masyarakat.

Dari masjid, lanjut Buya Cecep, dapat tumbuh masyarakat yang kuat secara spiritual, intelektual, sosial, dan kepemimpinan.

Iman memberi arah kehidupan, ilmu membentuk cara berpikir, akhlak membangun karakter, ukhuwah menguatkan solidaritas, sedangkan amal menerjemahkan nilai-nilai Islam menjadi manfaat nyata.

Di sinilah tantangan masjid hari ini perlu dilihat secara jujur. Aktivitas masjid terkadang masih lebih banyak berpusat pada kegiatan ritual.

Sementara itu, potensi masjid sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan jamaah, pelayanan sosial, hingga penguatan ekonomi umat belum sepenuhnya digarap.

Padahal, masjid memiliki jamaah, sumber daya, dan potensi sosial yang besar.

Oleh karena itu, masjid perlu dikembangkan menjadi pusat pembinaan umat yang terbuka dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Majelis ilmu, tahsin, tahfiz Al-Qur’an, pembinaan imam, khatib, dai, guru, dan kader umat dapat berjalan bersama perpustakaan serta ruang diskusi.

Dengan begitu, masjid tidak hanya mengajarkan apa yang harus diyakini. Namun, membantu umat memahami bagaimana nilai-nilai Islam diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada generasi muda. Buya Cecep menilai masjid harus menjadi ruang yang aman, ramah, kreatif, dan mendidik agar anak muda tidak merasa masjid sebagai tempat yang jauh dari kehidupan mereka.

Anak muda juga perlu diberi ruang untuk ikut mengelola dan mengembangkan masjid.

Mereka bisa terlibat dalam pengelolaan media sosial, podcast, desain kreatif, komunitas olahraga, kajian, kegiatan sosial, hingga dakwah digital.

Dengan keterlibatan itu, anak muda tidak hanya datang sebagai peserta kegiatan. Mereka ikut merasa memiliki masjid sekaligus belajar memikul tanggung jawab untuk menghidupkannya.

Masjid juga memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pemberdayaan ekonomi dan pelayanan sosial.

Zakat, infak, sedekah, dan wakaf dapat dikelola secara amanah dan produktif untuk mendukung beasiswa, bantuan sosial, pelayanan kesehatan, pendampingan masyarakat, hingga pengembangan UMKM jamaah.

Buya Cecep juga menawarkan gagasan masjid sebagai “third place”, yakni ruang ketiga setelah rumah dan sekolah atau tempat kerja.

Masjid dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk beribadah, belajar, berdiskusi, berkumpul, dan berkarya.

Dengan cara pandang tersebut, masjid tidak lagi sekadar menjadi tempat “datang, salat, lalu pulang”.

Masjid dapat menjadi ruang yang mempertemukan ibadah dengan ilmu, persaudaraan dengan kepedulian, serta spiritualitas dengan kontribusi sosial.

Doktor lulusan Universitas Al-Azhar Mesir itu menegaskan, ukuran kemakmuran masjid bukan semata-mata bangunan yang megah atau banyaknya kegiatan.

Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh masjid mampu melahirkan umat yang beriman, berilmu, berakhlak, peduli, mandiri, dan bermanfaat bagi lingkungan.

Sebab, masjid yang benar-benar hidup seharusnya tidak hanya membuat jamaah semakin rajin datang ke masjid. Namun, membuat mereka semakin baik dalam menjalani kehidupan.

“Sejatinya masjid yang hidup akan melahirkan umat yang hidup. Sementara itu, umat yang hidup akan mampu membangun peradaban,” pungkas Buya Cecep.***(FA)

  • Penulis: Feri Anugrah

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menjelajah Malaysia-Singapura, Mahasiswa UM Bandung Temukan Makna Adaptasi dan Keterbukaan

    Menjelajah Malaysia-Singapura, Mahasiswa UM Bandung Temukan Makna Adaptasi dan Keterbukaan

    • calendar_month Kamis, 3 Sep 2026
    • account_circle Feri Anugrah
    • visibility 29
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID, COM, Bandung — Kuliah Kerja Nyata (KKN) Internasional tidak selalu tentang datang ke suatu tempat, menjalankan program, lalu pulang membawa laporan. Bagi Sela Lazma, mahasiswa Prodi Psikologi Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, KKN Internasional menjadi ruang belajar yang jauh lebih luas. Dia bisa bertemu masyarakat dengan latar belakang berbeda, mengenal budaya baru, sekaligus mencoba membawa […]

  • Suwendi, Digital Scholarchy Kunci Penguatan Kompetensi Dosen PTKI

    Suwendi, Digital Scholarchy Kunci Penguatan Kompetensi Dosen PTKI

    • calendar_month 51 menit yang lalu
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 8
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID — Guru Besar Pemikiran Pendidikan Islam Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Suwendi, menegaskan pentingnya Digital Scholarchy dalam penguatan kompetensi digital dosen Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Menurutnya, kompetensi digital dosen tidak cukup diukur dari kemampuan menggunakan aplikasi dan teknologi, tetapi juga dari kemampuan mengintegrasikannya secara kritis, reflektif, pedagogis, dan bertanggung jawab dalam praktik […]

  • Agribisnis Bukan Cuma Soal Kebun, Ada Bisnis dan Banyak Peluang di Baliknya

    Agribisnis Bukan Cuma Soal Kebun, Ada Bisnis dan Banyak Peluang di Baliknya

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • account_circle Feri Anugrah
    • visibility 34
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID, Bandung — Kuliah Agribisnis ternyata bukan cuma soal belajar pertanian di ruang kelas. Bagi Albar Yuwar Dhanuwinata, justru bagian paling menarik adalah ketika teori yang dipelajari bisa langsung dicoba di dunia nyata. Ketua Himpunan Mahasiswa Agribisnis (Himagri) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung itu merasakan sendiri bagaimana mahasiswa diberi ruang untuk belajar bisnis sejak masih kuliah. […]

  • Gagal Jual Produk Impor? Ini Cara Bereskan Aturan Produk Halal Impor BPJPH

    Gagal Jual Produk Impor? Ini Cara Bereskan Aturan Produk Halal Impor BPJPH

    • calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 32
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID — Produk luar negeri yang masuk ke Indonesia wajib mengantongi sertifikat halal yang diakui oleh Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH). Proses ini mensyaratkan kehalalan bahan dan proses produksi di negara asal yang dibuktikan lewat kerja sama resminya dengan lembaga akreditasi terkait. Jika belum bersertifikat saat memasuki masa pemberlakuan aturan, produk tersebut wajib diberi keterangan […]

  • Hidup Sederhana Bukan Berarti Kekurangan, Begini Cara Menemukan Keberlimpahan

    Hidup Sederhana Bukan Berarti Kekurangan, Begini Cara Menemukan Keberlimpahan

    • calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
    • account_circle Feri Anugrah
    • visibility 53
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID, Bandung — Banyak orang mengira hidup berkelimpahan berarti memiliki banyak uang, rumah bagus, kendaraan mewah, atau mampu memenuhi hampir semua keinginan. Padahal, dalam kehidupan seorang Muslim, keberlimpahan memiliki makna yang jauh lebih luas: hati yang merasa cukup, rezeki yang berkah, hidup yang tenang, dan apa yang dimiliki mampu memberi manfaat bagi orang lain. Pesan […]

  • Kuliah Pakar UIN Bandung: Prof. Ramlan Surbakti Soroti RUU Pemilu 2029

    Kuliah Pakar UIN Bandung: Prof. Ramlan Surbakti Soroti RUU Pemilu 2029

    • calendar_month Senin, 7 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 121
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID – Program Studi (Prodi) Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Rancangan Undang-undang Pemilu 2029 dan Masa Depan Demokrasi Indonesia”. Acara yang ditujukan untuk membekali mahasiswa dengan fondasi keilmuan politik ini berlangsung khidmat di Aula FISIP Lantai 1, Sabtu (5/9/2026). Seminar ini menghadirkan […]

expand_less