Agama Tak Cukup Normatif, Harus Hadir Menjawab Persoalan Masyarakat
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Senin, 5 Okt 2026
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID, Bandung — Agama harus mampu beradaptasi dengan perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan perubahan zaman. Kehadiran agama tidak cukup berhenti pada ruang normatif, tetapi perlu memberi jawaban atas berbagai persoalan masyarakat.
Pandangan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dadang Kahmad saat meluncurkan buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama di Auditorium KH Ahmad Dahlan, lantai tiga kampus UM Bandung, Senin (05/10/2026).
Buku yang diterbitkan Suara Muhammadiyah itu merupakan refleksi Dadang selama puluhan tahun aktif di Muhammadiyah sekaligus sebagai akademisi sosiologi agama.
Menurut Dadang, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sejak era positivisme hingga munculnya kecerdasan buatan atau AI terus memunculkan pertanyaan mengenai masa depan agama.
Ia membagi respons terhadap modernisasi, sains, dan teknologi ke dalam tiga kecenderungan.
Pertama, kelompok yang menolak modernisasi dan memilih bertahan dalam ortodoksi. Mereka cenderung menjaga pola kehidupan lama dan menarik diri dari perubahan zaman.
Kedua, kelompok yang larut dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi hingga semakin jauh dari agama. Dadang menyebut agnostisisme dan ateisme sebagai salah satu fenomena yang muncul dari kecenderungan tersebut.
Ketiga, kelompok yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan prinsip agama. Mereka terbuka terhadap perkembangan zaman dan memanfaatkan teknologi untuk mendorong kemajuan kehidupan.
“Ortodoksi dalam ibadah, tetapi kuat dan maju dalam muamalah. Teknologi, AI, dan berbagai kecanggihan zaman dimanfaatkan untuk kemajuan agama. Islam berkemajuan relevan dengan posisi ini,” ujar Dadang.
Menurutnya, pendekatan tersebut sejalan dengan karakter Muhammadiyah yang tetap berpegang pada prinsip keagamaan, tetapi pada saat yang sama mendorong kemajuan dalam kehidupan sosial.
Dadang mengatakan buku tersebut tidak lahir secara tiba-tiba. Gagasan di dalamnya merupakan hasil refleksi dari perjalanan panjangnya sebagai warga Muhammadiyah dan pengajar.
Ia telah aktif di Muhammadiyah sejak 1980-an, mulai dari tingkat ranting hingga Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Sementara itu, Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menilai buku tersebut relevan dengan kondisi masyarakat saat ini.
Menurut Herry, buku Muhammadiyah dan Masa Depan Agama mengajak pembaca melihat kembali posisi agama, Islam, dan Muhammadiyah dalam menghadapi masa depan yang semakin dipengaruhi perkembangan teknologi digital.
“Muhammadiyah memiliki peran penting untuk terus menghadirkan pencerahan, pembaruan, dan kemajuan,” kata Herry.
Ia menilai gagasan dalam buku tersebut juga berkaitan dengan berbagai persoalan kontemporer, termasuk pendidikan, lingkungan, serta tantangan teknologi digital.
Peluncuran buku tersebut dihadiri Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Anwar Abbas, Ketua Pimpinan Pusat Aisyiyah Siti Noordjannah Djohantini, serta sejumlah pimpinan Muhammadiyah, Aisyiyah, perguruan tinggi, dan tokoh akademisi.
Hadir pula Ketua PWM Jawa Barat Ahmad Dahlan beserta jajaran, Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah Azrul Tanjung, serta pimpinan majelis, lembaga, dan organisasi otonom Muhammadiyah Jawa Barat.
Dari lingkungan perguruan tinggi, hadir sejumlah pimpinan PTMA serta jajaran UIN Sunan Gunung Djati Bandung, termasuk Rektor Rosihon Anwar, Ketua Senat Mahmud, Direktur Pascasarjana Ahmad Sarbini, dan Dekan Fakultas Ushuluddin Wahyudin Darmalaksana.
Turut hadir anggota Dewan Pendidikan Nasional Tiar Anwar Bachtiar dan Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Muchlas Rowi.***(FA)
- Penulis: Feri Anugrah
