Kamis, 8 Okt 2026

Muktamar NU dan Kegelisahan Anak Muda

  • account_circle Dziki Fajar Alfian R, Warga sipil NU
  • calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
  • visibility 50
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

Selain Kursi Ketua Umum, Apa yang Sebenarnya Dipertaruhkan?

 

GENHALAL.ID — Saya warga NU biasa. Bukan pengurus PCNU, bukan PWNU, bukan muktamirin, apalagi orang yang punya pengaruh untuk menentukan siapa yang akan menjadi Ketua Umum PBNU lima tahun ke depan.

Saya hanya bagian dari warga Nahdliyin yang belakangan cukup sering mengikuti pemberitaan tentang Muktamar ke-35 NU, membaca nama-nama yang masuk bursa, melihat dinamika dukungan, sampai sesekali ikut menerka-nerka siapa yang kira-kira akan menjadi nahkoda NU periode berikutnya.

Mungkin posisi saya memang tidak terlalu penting dalam arena Muktamar. Tetapi justru karena berada di luar arena itulah saya punya satu pertanyaan sederhana: apa sebenarnya yang sedang dipertarungkan dalam Muktamar NU selain kursi Ketua Umum PBNU?

Muktamar ke-35 NU akan berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27–31 Agustus 2026. Menjelang pelaksanaannya, sejumlah nama muncul dalam bursa calon Ketua Umum PBNU dan peta dukungan masih terus bergerak.

Sebagai penonton, dinamika semacam itu tentu menarik. Namun, semakin banyak membaca berita tentang siapa yang maju, siapa yang didukung, dan siapa yang dianggap memiliki peluang, saya justru semakin bertanya: setelah seseorang terpilih, lalu apa?

Sebab bagi saya, Muktamar bukan sekadar persoalan mengganti orang di kursi kepemimpinan. Ada jutaan warga NU yang kehidupannya tetap berjalan setelah Muktamar selesai. Santri tetap belajar, mahasiswa yang baru lulus tetap mencari pekerjaan, pedagang kecil tetap menghitung pemasukan, pekerja tetap berangkat pagi dan pulang sore, sementara anak muda tetap bergulat dengan algoritma media sosial yang setiap hari menawarkan sesuatu yang baru.

Sebagian warga NU mungkin bahkan tidak terlalu tahu siapa yang akhirnya terpilih menjadi Ketua Umum PBNU. Mereka mungkin tidak mengikuti perdebatan politik organisasi setiap hari, tetapi mereka tetap akan merasakan arah NU dalam lima tahun berikutnya.

Anak muda tidak hanya ingin disebut sebagai masa depan NU

Ada satu pernyataan dalam diskusi menjelang Muktamar yang menurut saya menarik. Wulansari Aliyatus Sholikhah dari KOPRI PB PMII mengatakan bahwa anak muda tidak seharusnya hanya dipandang sebagai “masa depan NU”, tetapi harus dilihat sebagai bagian dari NU hari ini. Ia juga mempertanyakan apa manfaat konkret yang dapat diberikan NU kepada generasi muda.

Bagi saya, pertanyaan tersebut sederhana, tetapi sangat mendasar. Selama ini kita terlalu sering mendengar kalimat bahwa anak muda adalah penerus NU. Kalimat itu memang terdengar indah dan cocok disampaikan dalam berbagai forum kaderisasi. Namun, mungkin sudah waktunya kita bertanya lebih jauh: penerus yang bagaimana, dan NU hari ini memberikan ruang apa kepada mereka?

Anak muda NU sekarang hidup dalam kondisi yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka menghadapi pasar kerja yang semakin kompetitif, perkembangan kecerdasan buatan, ekonomi digital, perubahan pola komunikasi, biaya hidup, serta banjir informasi yang tidak pernah berhenti. Dunia mereka tidak lagi memiliki batas yang sesederhana dulu.

Seorang anak muda bisa belajar agama dari pesantren, kuliah di kampus, bekerja sebagai freelancer, berdiskusi di media sosial, dan memperoleh pengetahuan dari YouTube atau TikTok dalam waktu yang sama. Bahkan untuk mencari jawaban atas persoalan keagamaan pun, mesin pencari dan kecerdasan buatan mulai menjadi bagian dari keseharian.

Karena itu, NU tidak cukup hanya mengatakan bahwa anak muda adalah penerus organisasi. Anak muda membutuhkan alasan untuk tetap merasa bahwa NU adalah bagian dari masa depannya. Bukan berarti NU harus meninggalkan tradisi agar terlihat modern, apalagi mengikuti semua tren yang sedang ramai.

Justru tantangannya adalah bagaimana nilai-nilai yang diwariskan para ulama dan muassis NU tetap dapat diterjemahkan ke dalam persoalan yang dihadapi generasi sekarang. Relevansi bukan berarti kehilangan identitas, tetapi menemukan cara agar identitas tersebut tetap bermakna bagi zaman yang terus berubah.

Jangan sampai Muktamar terlalu sibuk membicarakan siapa, tetapi lupa membicarakan apa

Bursa calon Ketua Umum tentu penting. Pemimpin menentukan arah organisasi. Karena itu, rekam jejak, integritas, pengalaman organisasi, kapasitas intelektual, dan visi para kandidat memang layak diperbincangkan.

Sejumlah media pun mulai memetakan latar belakang dan rekam jejak nama-nama yang masuk dalam bursa. Namun, ada risiko ketika kontestasi figur terlalu mendominasi percakapan. Kita akhirnya lebih sibuk bertanya, “Siapa yang menang?”, daripada bertanya, “Apa yang harus dimenangkan NU?”

Menurut saya, yang harus dimenangkan bukan sekadar satu kandidat. Yang harus dimenangkan adalah kemampuan NU untuk tetap relevan dengan persoalan anak muda, perkembangan teknologi, kehidupan masyarakat perkotaan, ekonomi warga, pendidikan, serta berbagai persoalan sosial yang terus berubah.

NU sudah besar. Justru karena sudah besar, tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana menjadi organisasi yang semakin besar, melainkan bagaimana kebesaran tersebut benar-benar dirasakan manfaatnya oleh umat.

Karena itu, pembicaraan mengenai Muktamar seharusnya tidak berhenti pada siapa yang memiliki dukungan paling banyak. Kita juga perlu membicarakan gagasan apa yang dibawa masing-masing kandidat, bagaimana mereka melihat masa depan kader muda, bagaimana NU menghadapi perubahan teknologi, bagaimana pemberdayaan ekonomi warga dilakukan, serta bagaimana organisasi menjaga jaraknya dari kepentingan politik praktis tanpa kehilangan peran dalam kehidupan kebangsaan.

Jika kontestasi kepemimpinan terlalu jauh dari gagasan dan terlalu dekat dengan transaksi, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi kandidat, tetapi juga kepercayaan warga terhadap organisasi.

NU bukan hanya milik mereka yang berada di arena Muktamar

Saya kira ada pertanyaan yang juga perlu kita ajukan: NU milik siapa? Secara organisasi tentu ada struktur, aturan, forum, dan mekanisme yang mengatur jalannya organisasi. Ada PBNU, PWNU, PCNU, MWCNU hingga ranting. Tetapi NU tidak berhenti sebagai struktur administratif.

NU hidup di tengah umat. Ada warga yang mungkin tidak pernah menjadi pengurus, tetapi rutin datang ke pengajian. Ada yang tidak pernah mengikuti konferensi organisasi, tetapi anaknya bersekolah di lembaga pendidikan NU. Ada yang tidak hafal AD/ART, tetapi setiap malam Jumat ikut tahlilan. Ada pula anak muda yang tidak terlalu aktif dalam kegiatan organisasi, tetapi ketika ditanya mengenai identitas organisasinya, dengan santai menjawab, “Saya NU.”

Karena itu, kegelisahan anak muda terhadap Muktamar bukan berarti ingin ikut menentukan siapa yang harus menjadi Ketua Umum. Bukan pula berarti seluruh keputusan organisasi harus mengikuti keinginan generasi muda.

Kegelisahan itu lebih sederhana: jangan sampai anak muda hanya diminta menjadi penerus, tetapi tidak pernah diajak membicarakan masa depan yang akan mereka jalani.

Sebab anak muda bukan sekadar generasi yang suatu saat nanti akan mengambil alih NU. Mereka sudah menjadi bagian dari NU hari ini, dan keputusan organisasi yang dibuat sekarang akan ikut menentukan kehidupan mereka beberapa tahun ke depan.

Di titik inilah saya merasa Muktamar perlu kembali melihat NU sebagai milik umat. Bukan hanya milik orang-orang yang berada di dalam ruang sidang, tetapi juga milik warga yang selama ini membuat NU hidup di tengah masyarakat.

Jika NU ingin tetap menjadi rumah bagi generasi berikutnya, maka rumah tersebut harus cukup luas untuk menampung perubahan zaman tanpa kehilangan fondasinya.

Kami ingin punya alasan untuk bangga mengatakan, “Saya NU”

Ada satu hal yang menurut saya jarang dibicarakan ketika kita membahas regenerasi NU: kebanggaan menjadi bagian dari NU. Bukan kebanggaan dalam arti merasa paling benar dibanding kelompok lain, bukan pula kebanggaan karena memiliki organisasi yang besar. Yang saya maksud adalah kebanggaan karena merasa bahwa identitas sebagai warga NU memang memberikan sesuatu yang berarti dalam kehidupan.

Anak muda perlu merasa bahwa menjadi bagian dari NU bukan sekadar identitas yang diwariskan orang tua. Bukan hanya karena sejak kecil diajak tahlilan, sekolah di madrasah, atau karena orang tua aktif di organisasi NU.

Ketika sudah dewasa, mereka perlu memiliki alasan sendiri untuk mengatakan, “Saya memilih tetap menjadi bagian dari NU karena nilai-nilainya masih relevan dengan kehidupan saya.” Di tengah begitu banyak pilihan identitas, komunitas, dan sumber pengetahuan yang tersedia di internet, mempertahankan rasa memiliki terhadap sebuah organisasi tentu membutuhkan lebih dari sekadar ajakan untuk meneruskan tradisi.

Karena itu, NU perlu memberi ruang kepada anak muda untuk tumbuh dan berkontribusi. Bukan sekadar mengundang mereka menjadi peserta acara, meminta mereka membuat konten, lalu memotret mereka untuk dokumentasi.

Anak muda tentu senang difoto, tetapi mungkin akan jauh lebih senang jika gagasannya benar-benar didengar dan diberi ruang untuk diwujudkan. Jika hal tersebut bisa dilakukan, rasa bangga menjadi warga NU tidak hanya muncul karena identitas yang diwariskan, tetapi karena ada pengalaman nyata bahwa NU memang menjadi bagian penting dari kehidupan mereka.

  • Penulis: Dziki Fajar Alfian R, Warga sipil NU

Rekomendasi Untuk Anda

  • Lepas 660 Alumni FITK UIN Jakarta, Lukman Hakim Saifuddin Beberkan Pentingnya Guru yang Terus Belajar

    Lepas 660 Alumni FITK UIN Jakarta, Lukman Hakim Saifuddin Beberkan Pentingnya Guru yang Terus Belajar

    • calendar_month Rabu, 2 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 32
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID — Setiap orang pada hakikatnya adalah pengajar sekaligus pendidik, setidaknya bagi dirinya sendiri dan lingkungan terdekatnya. Karena itu, seorang pengajar dituntut untuk terus belajar. Mengajar dan belajar merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.   Demikian disampaikan Menteri Agama RI periode 2014–2019, Lukman Hakim Saifuddin, saat memberikan pembekalan pada acara Pelepasan Alumni dan Yudisium […]

  • ASM, Hadir untuk Menyusun Literasi Sejarah Muhammadiyah Daerah

    ASM, Hadir untuk Menyusun Literasi Sejarah Muhammadiyah Daerah

    • calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 32
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID, Surabaya — Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengadakan kegiatan Akademi Sejarah Muhammadiyah (ASM). Acara berlangsung dari Jumat-Selasa (07-11/08/2026) di Hotel Dafam Pacific Caesar, Surabaya. Peserta adalah perwakilan dari MPI se-Indonesia, mahasiswa, dan beberapa guru pegiat sejarah. Total jumlah peserta ada 25 orang. Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Barat turut memeriahkan […]

  • Lima Fondasi Kehidupan Menurut Islam di Tengah Gempuran Revolusi Industri 5.0

    Lima Fondasi Kehidupan Menurut Islam di Tengah Gempuran Revolusi Industri 5.0

    • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
    • account_circle Feri Anugrah
    • visibility 26
    • 0Komentar

    BANDUNGMU.COM, Bandung – Pesatnya perkembangan teknologi dan hadirnya Revolusi Industri 5.0 membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia. Namun, di tengah kemajuan tersebut, manusia dituntut untuk tidak kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan. Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Bandung Hendar Riyadi menyebut Islam memiliki lima pilar penting yang dapat menjadi fondasi kehidupan manusia […]

  • Tidak Sama dengan yang Lain, Inilah Indikator Manusia Terdidik

    Tidak Sama dengan yang Lain, Inilah Indikator Manusia Terdidik

    • calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
    • account_circle Feri Anugrah
    • visibility 42
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID, Bandung — Apa sebenarnya makna menjadi manusia terdidik? Pertanyaan ini mengemuka dalam program Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat, Selasa (25/08/2026), yang menghadirkan Hendar Riyadi, dosen Prodi PAI dan PIAUD Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, sebagai narasumber. Hendar menegaskan, pendidikan sejati tidak berhenti pada kecerdasan intelektual. Pendidikan harus membentuk manusia yang beriman, berakhlak, bijaksana, […]

  • Tingkatkan Potensi Kepulauan, ITB Gandeng BAPPERIDA Pangkep

    Tingkatkan Potensi Kepulauan, ITB Gandeng BAPPERIDA Pangkep

    • calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 49
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID — Tim Pengabdian kepada Masyarakat Institut Teknologi Bandung (ITB) yang dipimpin Prof. Dr. Ir. Nana Rachmana Syambas, M.Eng. melakukan kunjungan ke Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BAPPERIDA) Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) pada Jumat, 21 Agustus 2026. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari upaya membuka peluang kolaborasi penelitian dan pengabdian kepada masyarakat antara […]

  • UM Bandung Perkuat Literasi Finansial Mahasiswa Lewat Edukasi Pasar Modal

    UM Bandung Perkuat Literasi Finansial Mahasiswa Lewat Edukasi Pasar Modal

    • calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
    • account_circle Feri Anugrah
    • visibility 32
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID, Bandung — Mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mendapat bekal penting untuk mengenal dunia investasi. Bursa Efek Indonesia (BEI) memperkenalkan dasar-dasar pasar modal sekaligus cara menjadi investor muda yang lebih cerdas dalam rangkaian Pesonamu UM Bandung 2026 di Auditorium KH Ahmad Dahlan pada Selasa (22/09/2026). Deputi Kepala Wilayah Jawa Barat Kantor Perwakilan BEI Jawa Barat […]

expand_less