Menjadi Sarjana Adalah Awal Perjalanan Menebar Manfaat pada Umat dan Bangsa
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
- visibility 33
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID, Bandung — Mendapatkan gelar sarjana tentu menjadi momen yang membanggakan. Namun, setelah toga dikenakan dan ijazah diterima, perjalanan sebenarnya justru baru dimulai.
Di luar kampus, lulusan akan berhadapan dengan dunia kerja, masyarakat, perubahan teknologi, sekaligus berbagai persoalan yang membutuhkan ilmu dan sikap yang matang. Oleh karena itu, menjadi sarjana tidak cukup hanya bermodal nilai akademik.
Pesan tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung yang diikuti 684 calon wisudawan dan wisudawati.
Kegiatan yang diselenggarakan Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam Kemuhammadiyahan (LPPAIK) UM Bandung itu berlangsung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kamis (10/9/2026).
Wakil Rektor I UM Bandung Ayi Yunus Rusyana mengatakan, mahasiswa perlu memiliki bekal yang cukup sebelum benar-benar meninggalkan kehidupan kampus.
Bukan hanya bekal keilmuan, tetapi juga kemampuan beradaptasi dan menghadapi kehidupan di tengah masyarakat.
“Ini acara penting bagi mahasiswa sebelum terjun ke masyarakat. Anggap saja ini perayaan kelulusan, tetapi dengan cara yang positif, selain wisuda nanti,” ujar Ayi.
Menurut Ayi, perkembangan teknologi dan disrupsi yang begitu cepat membuat lulusan perlu memiliki kemampuan yang lebih lengkap.
Kemampuan akademik tetap penting, tetapi harus dilengkapi soft skill, karakter, dan pemahaman Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK).
Bekal tersebut akan menjadi penting ketika lulusan mulai bekerja, membangun karier, maupun berinteraksi dengan masyarakat.
Sebab, kemampuan seseorang tidak hanya terlihat dari apa yang ia ketahui, tetapi dari bagaimana ilmu itu digunakan.
Ayi juga mengingatkan calon lulusan agar tidak meninggalkan nilai-nilai Muhammadiyah setelah menyandang status sebagai alumni.
Pemahaman AIK yang diperoleh selama kuliah diharapkan terus hidup dalam keseharian melalui sikap, etika, profesionalitas, dan kepedulian terhadap sesama.
Pesan tentang makna menjadi sarjana juga disampaikan Pradana Boy ZTF (Asisten Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Haji).
Ia mengajak mahasiswa melihat kelulusan bukan hanya sebagai pencapaian pribadi, tetapi juga sebagai amanah untuk melakukan sesuatu yang lebih besar.
Boy mengingatkan bahwa kesempatan memperoleh pendidikan tinggi merupakan sesuatu yang patut disyukuri.
Tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan hingga jenjang sarjana.
“Hanya sedikit saja masyarakat Indonesia yang bergelar sarjana. Anda sekalian menjadi bagian dari enam hingga sepuluh persen masyarakat Indonesia yang berpendidikan tinggi. Ini adalah modal sosial yang sangat bagus. Posisinya sudah sangat istimewa,” kata Boy.
Namun, kata Boy, posisi tersebut bukan alasan bagi seorang sarjana untuk merasa lebih tinggi dari masyarakat lainnya.
Justru pendidikan tinggi seharusnya membuat seseorang semakin sadar bahwa ada tanggung jawab yang ikut melekat bersama ilmu dan gelar yang dimilikinya.
Oleh karena itu, lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu menjadi penggerak perubahan, menghadirkan solusi, dan memberikan manfaat sesuai bidang keilmuan serta profesinya.
Keberhasilan setelah lulus tidak hanya tentang mendapatkan pekerjaan atau mencapai posisi tertentu. Namun, tentang seberapa besar ilmu yang dimiliki dapat memberi arti bagi orang lain.
Semangat itulah yang coba dibangun melalui materi BAPS. Mahasiswa dibekali berbagai materi yang dekat dengan kehidupan setelah kampus.
Mulai dari etika profesi dan jiwa technopreneur, integrasi keilmuan dan kemandirian ekonomi, penguatan keislaman dan kemuhammadiyahan, hingga tradisi keilmuan dan tajdid melalui studi lanjut.
Sebanyak 684 calon wisudawan dan wisudawati dari lima fakultas dan 18 program studi sarjana mengikuti kegiatan tersebut.
Mereka dipersiapkan bukan hanya untuk menjadi tenaga profesional yang kompeten. Namun, pribadi yang mampu membawa nilai dan ilmu ke dalam kehidupan nyata.
Pada akhirnya, gelar sarjana bukanlah sekadar tambahan nama atau tanda bahwa masa kuliah telah selesai.
Ia merupakan bekal sekaligus amanah untuk terus belajar, berkarya, dan memberi manfaat.
Sebab, ukuran keberhasilan seorang sarjana bukan hanya seberapa tinggi ia melangkah.
Namun, seberapa banyak manfaat yang mampu ia tinggalkan di sepanjang perjalanan.***(FA/FK)
- Penulis: Feri Anugrah
