Blog, Makhluk Apaan Tuh?
- account_circle Sukron Abdillah, Founder Gen Halal Indonesia
- calendar_month Senin, 10 Agt 2026
- visibility 59
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID — Di era di mana anak muda lebih kenal istilah “VT”, “FYP”, dan “Algoritma TikTok”, kata “Blog” mendadak terasa setua artefak dinosaurus yang terdampar di museum geologi.
Beberapa waktu lalu, seorang kerabat jauh yang masih SMA memergoki layar laptop saya penuh dengan tampilan dashboard WordPress. Dengan muka polos tanpa dosa, dia bertanya, “Bang, itu lagi buka Microsoft Word versi purba ya? Atau lagi ngetik koran?”
Saya cuma bisa mengelus dada sambil menghembuskan napas berat beraroma kopi hitam. Blog, sebuah nama yang pernah menghiasi era keemasan jagat internet awal tahun 2000-an, kini ditanya seolah-olah ia adalah fosil T-Rex yang lupa punah.
Tapi bentar, kalau dipikir-pikir pakai kepala dingin (dan sedikit kerutan di dahi), apakah blog benar-benar mati? Atau ini cuma fenomena rotasi sejarah yang biasa terjadi dalam peradaban manusia?
Hukum Daur Ulang Peradaban: Dari Batu Sampai Threads
Dalam teori evolusi kebudayaan, peradaban tidak pernah benar-benar menciptakan hal yang 100% baru. Peradaban hanya melakukan recycle alias daur ulang bentuk, cuma beda kemasan dan beda daya tampung memori.
- Zaman Purba: Manusia gua mencoret-coret dinding batu pakai darah hewan atau getah pohon untuk menceritakan betapa susahnya memburu seekor mamut.
- Zaman Abad Pertengahan: Manusia mulai nulis diary pakai tinta bulu angsa, nangis-nangis meratapi patah hati karena dijodohkan sama bangsawan sebelah.
- Zaman 2000-an (Era Blog): Manusia pindah nyampah ke Blogger atau WordPress. Tulisannya penuh dengan warna tulisan merah-kuning menyala yang bikin mata minus naik dua dioptri, lengkap dengan lagu MP3 yang otomatis menyala pas websitenya dibuka.
- Zaman Milenial/Gen Z: Postingan blog yang ribuan kata dipres jadi caption Instagram, lalu dipres lagi jadi video 15 detik di TikTok, lalu dipres lagi jadi utas Threads yang cuma modal curhat, “Duh, capek banget hari ini.”
Lihat pola siklusnya? Inti peradaban manusia itu cuma satu: mereka haus buat didengar dan meninggalkan jejak.
Blog sebenarnya adalah perantara transisi dari tulisan panjang ala koran ke era ceplos-ceplos visual masa kini. Dulu, kita rela begadang sampai jam 2 pagi cuma buat ngedit template HTML yang kodenya berantakan, demi bisa pasang widget jam analog atau efek salju jatuh di layar. Kalau sekarang orang bangga dapet jutaan viewers di video reel, dulu anak blog sudah merasa jadi raja dunia kalau kolom komentarnya diisi: “Nice post gan, kunjungi balik blog ane ya!”
Pengalaman Ngeblog: Dari Curhat Galau Jadi Komandannya Kata-Kata
Ngeblog itu ibarat punya rumah sendiri di tengah hutan belantara internet. Di media sosial modern, kita ini cuma “ngontrak” di tanah milik markas besar kapitalis teknologi. Begitu algoritmanya berubah, gulung tikar kita. Tapi di blog? Kita adalah raja, gubernur, sekaligus tukang sapunya.
Saya ingat betul tulisan-tulisan awal di blog saya. Isinya murni keputusasaan remaja yang kebingungan membedakan mana cinta sejati dan mana penderitaan akibat masuk angin. Tapi seiring berjalannya waktu, blog bermutasi. Dari yang tadinya tempat menampung renungan galau, ia berubah jadi sarana latihan berpikir kritis, nulis opini, sampai tempat jualan gagasan.
Daur ulang peradaban membuktikan bahwa format media boleh berganti, tapi kebutuhan manusia akan narasi yang mendalam tidak akan pernah terhapus. Video pendek memang menghibur dan bikin dopamin meloncat-loncat seketika. Tapi begitu videonya selesai, kita sering bingung: tadi gua nonton apaan ya?
Di situlah blog tetap berdiri kokoh, seperti warung kopi langganan di pojok jalan yang tidak pernah sepi dari pelanggan setianya. Blog menawarkan kedalaman yang gagal diberikan oleh durasi video 15 detik.
Jadi, Makhluk Apaan Tuh?
Kalau ada yang bertanya lagi, “Blog itu makhluk apaan sih?”, saya bakal jawab dengan tenang:
“Blog itu ibarat prasasti digital. Tempat di mana pikiran tidak dipotong oleh durasi, tidak disunting oleh algoritma joget-joget, dan tidak gampang tenggelam oleh tumpukan konten viral besok pagi.”
Bentuknya mungkin dinilai kuno oleh sebagian orang, tapi esensinya adalah jiwa dari internet itu sendiri: kebebasan bercerita. Peradaban boleh terus berputar dari batu ke ketikan, dari ketikan ke video, dan mungkin nanti dari video ke hologram. Tapi selama manusia masih butuh ruang untuk merenung dan bercerita tanpa diburu-buru waktu, makhluk bernama blog ini tidak akan pernah benar-benar mati. Dia cuma sedang menunggu giliran untuk disanjung kembali oleh sejarah.
Gimana, mau coba nulis blog lagi, atau masih betah scrolling TikTok sampai jempol keriting?
- Penulis: Sukron Abdillah, Founder Gen Halal Indonesia
