Jika Masjid Hidup, Umat Akan Tumbuh dan Peradaban Akan Bangkit
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Jumat, 4 Sep 2026
- visibility 30
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID, Bandung — Masjid jangan hanya ramai ketika azan berkumandang. Rumah Allah semestinya tidak berhenti menjadi tempat menunaikan salat.
Namun, juga hadir sebagai ruang tempat umat belajar, memperbaiki akhlak, memperkuat persaudaraan, dan menebar manfaat.
Pesan tersebut disampaikan Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Bandung Cecep Taufikurrohman MA PhD saat menjadi pembicara dalam Program GSM Aisyiyah Jawa Barat pada Kamis (3/9/2026).
Buya Cecep, sapaan akrabnya, mengajak umat Islam untuk kembali bertanya tentang makna memakmurkan masjid.
Sebab, kemakmuran masjid tidak cukup hanya dilihat dari megahnya bangunan, ramainya jamaah saat waktu salat, atau banyaknya kegiatan yang tercatat dalam agenda.
Menurutnya, yang jauh lebih penting adalah apakah masjid benar-benar hidup dan memberi pengaruh bagi kehidupan umat.
“Memakmurkan masjid bukan hanya membangun fisiknya, tetapi bagaimana umat Islam bisa menghidupkan fungsi dan aktivitasnya,” ujarnya.
Masjid, kata Buya Cecep, idealnya menjadi tempat bertemunya iman, ilmu, akhlak, ukhuwah, dan amal sosial.
Masjid tidak hanya membentuk kesalehan pribadi, tetapi mendorong lahirnya kepedulian dan kebaikan di tengah masyarakat.
Gambaran tersebut dapat dilihat dari keteladanan Masjid Nabawi pada masa Rasulullah SAW.
Ketika itu, masjid bukan sekadar tempat salat. Namun, menjadi pusat pendidikan, pertemuan umat, pelayanan sosial, dan pembinaan masyarakat.
Dari masjid, lanjut Buya Cecep, dapat tumbuh masyarakat yang kuat secara spiritual, intelektual, sosial, dan kepemimpinan.
Iman memberi arah kehidupan, ilmu membentuk cara berpikir, akhlak membangun karakter, ukhuwah menguatkan solidaritas, sedangkan amal menerjemahkan nilai-nilai Islam menjadi manfaat nyata.
Di sinilah tantangan masjid hari ini perlu dilihat secara jujur. Aktivitas masjid terkadang masih lebih banyak berpusat pada kegiatan ritual.
Sementara itu, potensi masjid sebagai pusat pendidikan, pemberdayaan jamaah, pelayanan sosial, hingga penguatan ekonomi umat belum sepenuhnya digarap.
Padahal, masjid memiliki jamaah, sumber daya, dan potensi sosial yang besar.
Oleh karena itu, masjid perlu dikembangkan menjadi pusat pembinaan umat yang terbuka dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Majelis ilmu, tahsin, tahfiz Al-Qur’an, pembinaan imam, khatib, dai, guru, dan kader umat dapat berjalan bersama perpustakaan serta ruang diskusi.
Dengan begitu, masjid tidak hanya mengajarkan apa yang harus diyakini. Namun, membantu umat memahami bagaimana nilai-nilai Islam diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada generasi muda. Buya Cecep menilai masjid harus menjadi ruang yang aman, ramah, kreatif, dan mendidik agar anak muda tidak merasa masjid sebagai tempat yang jauh dari kehidupan mereka.
Anak muda juga perlu diberi ruang untuk ikut mengelola dan mengembangkan masjid.
Mereka bisa terlibat dalam pengelolaan media sosial, podcast, desain kreatif, komunitas olahraga, kajian, kegiatan sosial, hingga dakwah digital.
Dengan keterlibatan itu, anak muda tidak hanya datang sebagai peserta kegiatan. Mereka ikut merasa memiliki masjid sekaligus belajar memikul tanggung jawab untuk menghidupkannya.
Masjid juga memiliki peluang besar untuk menjadi pusat pemberdayaan ekonomi dan pelayanan sosial.
Zakat, infak, sedekah, dan wakaf dapat dikelola secara amanah dan produktif untuk mendukung beasiswa, bantuan sosial, pelayanan kesehatan, pendampingan masyarakat, hingga pengembangan UMKM jamaah.
Buya Cecep juga menawarkan gagasan masjid sebagai “third place”, yakni ruang ketiga setelah rumah dan sekolah atau tempat kerja.
Masjid dapat menjadi ruang bagi generasi muda untuk beribadah, belajar, berdiskusi, berkumpul, dan berkarya.
Dengan cara pandang tersebut, masjid tidak lagi sekadar menjadi tempat “datang, salat, lalu pulang”.
Masjid dapat menjadi ruang yang mempertemukan ibadah dengan ilmu, persaudaraan dengan kepedulian, serta spiritualitas dengan kontribusi sosial.
Doktor lulusan Universitas Al-Azhar Mesir itu menegaskan, ukuran kemakmuran masjid bukan semata-mata bangunan yang megah atau banyaknya kegiatan.
Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh masjid mampu melahirkan umat yang beriman, berilmu, berakhlak, peduli, mandiri, dan bermanfaat bagi lingkungan.
Sebab, masjid yang benar-benar hidup seharusnya tidak hanya membuat jamaah semakin rajin datang ke masjid. Namun, membuat mereka semakin baik dalam menjalani kehidupan.
“Sejatinya masjid yang hidup akan melahirkan umat yang hidup. Sementara itu, umat yang hidup akan mampu membangun peradaban,” pungkas Buya Cecep.***(FA)
- Penulis: Feri Anugrah
