Evolusi Jajan: Dari Nyari Receh Sampai Ngutang Paylater Demi Boba
- account_circle Sukron Abdilah, Founder Gen Halal Indonesia
- calendar_month Kamis, 30 Jul 2026
- visibility 85
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID — Jajan adalah hak asasi manusia. Sejak zaman purba hingga era kecerdasan buatan, manusia selalu butuh mengunyah sesuatu yang gurih, manis, dan kaya akan MSG. Tapi, kalau kita perhatikan, cara kita jajan—dan cara kita jatuh miskin karenanya—telah mengalami evolusi yang sangat kocak. Mari kita naik mesin waktu dan melihat bagaimana kebiasaan mulia ini berubah dari masa ke masa.
Mundur ke era 90-an atau awal 2000-an. Pada masa ini, dompet tebal adalah simbol kekayaan, meskipun saat dibuka isinya cuma uang dua ribuan lecek, bon fotokopi, dan foto gebetan yang sudah jadian sama orang lain.
Proses jajan di era ini sangat fisikal dan penuh perjuangan. Sebelum ke warung, ritual wajibnya adalah merogoh sela-sela sofa, membongkar jok motor, atau memeriksa kantong celana kotor demi mencari koin gopek.
Tidak ada yang lebih menyedihkan dibanding saat koin Rp 500 satu-satunya menggelinding masuk ke dalam selokan tepat di depan gerobak abang siomay. Tamat sudah impian jajan hari itu.
Ini adalah era di mana hukum ekonomi global bisa dikalahkan oleh ibu-ibu warung. “Neng, kembaliannya pakai permen karet dua ya?” Dan kita cuma bisa mengangguk pasrah. Permen karet resmi menjadi alat tukar yang sah di Republik Jajan Indonesia.
Masa Kini: Gen Z, QRIS, dan Tragedi Sinyal Hilang
Masuk ke era sekarang. Dompet fisik sudah hampir punah. Kalaupun ada, isinya cuma KTP yang fotonya sudah mengelupas. Bagi Gen Z, uang itu wujudnya bukan kertas, tapi angka digital di layar smartphone.
Kehadiran bank digital dengan kartu ATM warna-warni neon (yang lebih sering dipakai at mirror selfie daripada narik duit) mengubah segalanya:
Tukang cilok, seblak, sampai telur gulung sekarang punya stiker QRIS yang dilaminating di gerobaknya. Jajan tidak lagi pakai suara “Bang, beli lima ribu,” tapi pakai gerakan tangan scan barcode ala kasir minimarket.
Dulu orang panik kalau dompet ketinggalan. Sekarang Gen Z panik kalau kuota habis, HP lowbat, atau bank digitalnya lagi maintenance tepat saat abang seblak sudah menengadahkan tangan. “Bentar bang, loading… aduh sinyalnya ilang, Bang, jangan maju dulu gerobaknya!”
Bank digital sekarang canggih, ada fitur patungan. Jajan gorengan pinggir jalan berlima, bayarnya pakai fitur split bill yang ngitungnya sampai ke pecahan sen. “Eh, tadi lo makan bakwan dua ya, berarti lo bayar Rp 4.350, buruan transfer.”
Ini yang paling absurd. Beli kopi susu gula aren atau boba seharga Rp 25.000, tapi bayarnya pakai Paylater cicilan 3 bulan. Bobanya sudah jadi ampas di pencernaan, utangnya masih mengendap di BI Checking.
AI Penjaga Kolesterol
Lalu, bagaimana bentuk jajan di masa depan, katakanlah tahun 2050? Bank digital mungkin sudah berevolusi menjadi asisten virtual yang menempel di otak kita.
Saat mau buyur bayar jajanan, tidak perlu lagi scan QRIS. Kamu tinggal menatap mata hologram abang cireng, berkedip dua kali, dan boom! Saldomu otomatis terpotong melalui pemindaian retina.
Bank di masa depan tidak cuma ngurusin uang, tapi juga kesehatanmu. Karena data medis sudah terintegrasi dengan saldo rekening, AI bank digitalmu akan sering melakukan protes.
“Maaf, transaksi Seblak Mercon Level 10 ditolak. Asam lambung Anda sedang dalam kondisi kritis. Silakan beli oatmeal atau saldo Anda saya blokir.”
Paylater akan berevolusi menjadi utang yang diwariskan. Beli jajan di Mars pakai pesawat low-cost, cicilannya dilanjutkan oleh anak cucu sampai tujuh turunan.
Pada akhirnya, dari zaman nyari receh sampai zaman bayar pakai kedipan mata, satu hal yang tidak akan pernah berubah: hasrat kita untuk jajan akan selalu lebih besar daripada kapasitas saldo rekening kita. Selamat jajan, dan jangan lupa bayar Paylater-nya!***(SAB)
- Penulis: Sukron Abdilah, Founder Gen Halal Indonesia
