Dari Kampus untuk Kemanusiaan, Mahasiswa UM Bandung Berbagi Darah
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Senin, 12 Okt 2026
- visibility 42
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID, Bandung — Himpunan Mahasiswa Prodi Farmasi (Himprofar) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menggelar aksi donor darah pada Sabtu (10/10/2026).
Acara tersebut berlangsung dalam rangka membantu memenuhi kebutuhan darah dan meningkatkan kepedulian mahasiswa terhadap aksi kemanusiaan.
Kegiatan yang menargetkan 75 pendonor ini melibatkan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UM Bandung, Perhimpunan Donor Darah Indonesia (PDDI), dan Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Kabupaten Garut.
Proses donor darah diawali dengan registrasi, pengisian formulir, dan pemeriksaan kesehatan.
Peserta yang memenuhi persyaratan kemudian menjalani donor dengan pendampingan tim medis UTD PMI Kabupaten Garut.
Ketua Pelaksana Sri Rahayu mengatakan, kegiatan tersebut dilatarbelakangi kebutuhan darah yang belum sebanding dengan ketersediaan stok di PMI.
Ia berharap aksi donor darah ini dapat menambah pasokan darah bagi pasien yang membutuhkan.
“Semoga dengan diadakannya kegiatan ini, stok darah di PMI bisa bertambah,” ujar Sri.
Ketua Himprofar Surya Khairul mengatakan, donor darah merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang sejalan dengan catur dharma perguruan tinggi.
Kolaborasi dengan BEM UM Bandung juga dilakukan untuk memperluas partisipasi mahasiswa.
“Melalui kegiatan ini, kita bisa berkontribusi secara langsung, memberikan bantuan berupa darah yang nantinya akan disalurkan kepada pihak-pihak yang membutuhkan,” jelas Surya.
Ketua PDDI Kota Bandung Tulus Baedi mengapresiasi inisiatif mahasiswa tersebut.
Menurutnya, kegiatan donor darah di kampus dapat meningkatkan kesadaran generasi muda terhadap kebutuhan darah yang belum sepenuhnya terpenuhi.
“Donor darah harus jadi budaya dan jadi kebutuhan,” tegas Tulus.
Ia menjelaskan, rasa takut terhadap jarum suntik dan darah serta kurangnya pemahaman mengenai manfaat donor darah masih menjadi kendala partisipasi masyarakat.
Oleh karena itu, edukasi dan sosialisasi perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Tulus berharap UM Bandung dapat menjadi pelopor kegiatan donor darah rutin yang menginspirasi perguruan tinggi lainnya.
PDDI, katanya, siap mendukung upaya menjadikan donor darah sebagai kebutuhan sekaligus budaya masyarakat.
Sementara itu, staf umum UTD PMI Kabupaten Garut Sesep Nugraha menjelaskan bahwa darah yang terkumpul tidak dapat langsung disalurkan kepada pasien.
Setiap kantong darah harus melalui pemeriksaan laboratorium untuk memastikan kelayakannya sebelum didistribusikan ke rumah sakit.
Sesep menyebutkan, kebutuhan darah di Kabupaten Garut mencapai sekitar 2.500 kantong per bulan.
Tingginya kebutuhan tersebut mendorong UTD PMI untuk terus menjangkau masyarakat dan mengajak lebih banyak orang yang memenuhi persyaratan agar bersedia menjadi pendonor.
Ia berharap kegiatan donor darah dapat dilaksanakan secara berkala untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut.
“Setetes darah kita, nyawa bagi mereka,” ujarnya.
Salah seorang peserta, Shafa Jauza Azzahra, mahasiswa Program Studi Farmasi UM Bandung, mengaku baru pertama kali mengikuti donor darah karena ingin membantu sesama.
Namun, proses donornya harus dihentikan sebelum selesai setelah ia mengalami mual dan pusing.
“Menurut aku penting banget, karena tanpa kita tahu, ternyata banyak juga orang-orang yang memang perlu darah kita ini,” ungkap Shafa.
Melalui kegiatan ini, Himprofar UM Bandung berharap kepedulian mahasiswa terhadap kebutuhan darah semakin meningkat.
Selain membantu menambah pasokan darah, kegiatan tersebut diharapkan mendorong tumbuhnya budaya donor darah dan kepedulian kemanusiaan di lingkungan kampus. ***(Aziz/Kartika/Pierly)
- Penulis: Feri Anugrah
