Alam Mengajarkan Kebesaran Allah, Manusia Bertanggung Jawab Menjaganya
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Jumat, 9 Okt 2026
- visibility 139
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID, Bandung — Sejatinya alam bukanlah sekadar tempat hidup, tetapi merupakan sumber ilmu dan refleksi keimanan.
Melalui pengamatan terhadap makhluk hidup dan keteraturan alam, manusia dapat memahami kebesaran Allah sekaligus belajar menjaga keseimbangan lingkungan.
Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua PWM Jawa Barat Ace Somantri dalam pengajian rutin UM Bandung bertajuk “Belajar dari Alam” di Masjid Fastabikul Khairat, lantai tiga kampus, Kamis (8/10/2026).
Menurut Ace, Al-Qur’an mengajarkan manusia untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah melalui wahyu atau ayat qauliyah dan fenomena alam atau ayat kauniyah.
Keduanya menjadi sumber pembelajaran yang mendorong manusia untuk beriman, berpikir kritis, dan mengambil pelajaran dari kehidupan.
Hal ini sejalan dengan konsep ulul albab dalam QS Ali Imran ayat 190–191, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sekaligus merenungkan penciptaan langit dan bumi.
“Umat Islam harus memahami alam tidak sekadar sebagai tempat hidup, tetapi sebagai sumber pembelajaran dan bahan refleksi,” ujar Ace.
Ace menjelaskan, perilaku makhluk hidup menyimpan pelajaran yang relevan bagi kehidupan manusia.
Lebah mengajarkan produktivitas dan kerja sama, semut mencerminkan komunikasi serta kepedulian.
Sedangkan burung memberikan gambaran tentang ikhtiar dalam mencari rezeki yang disertai tawakal.
Nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam keluarga, lembaga pendidikan, tempat kerja, hingga masyarakat.
Produktivitas, menurut Ace, perlu disertai kerja sama dan kepedulian terhadap kepentingan bersama.
Selain memperkuat keimanan, pengamatan terhadap alam juga dapat mendorong pengembangan ilmu pengetahuan.
Keteraturan alam membuka ruang bagi penelitian, penemuan, dan inovasi yang bermanfaat bagi kehidupan.
Oleh karena itu, Ace menilai ilmu pengetahuan dan refleksi keagamaan dapat berjalan beriringan.
Pengetahuan tidak hanya membantu manusia memahami alam, tetapi menumbuhkan tanggung jawab untuk memanfaatkannya secara bijaksana.
Ace mengingatkan bahwa manusia merupakan bagian dari alam yang harus menjaga keseimbangannya atau mizan.
Sebagai khalifah di bumi, manusia bertanggung jawab mengelola sumber daya tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Ia merujuk QS Al-A’raf ayat 56 yang melarang manusia membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.
Sementara itu, QS Ar-Rum ayat 41 mengingatkan bahwa kerusakan di darat dan laut berkaitan dengan perbuatan manusia.
Pesan tersebut relevan dengan persoalan lingkungan, seperti sampah plastik, kerusakan hutan, dan perubahan iklim.
Kepedulian terhadap lingkungan, menurut Ace, tidak cukup berhenti pada pengetahuan atau imbauan, tetapi perlu diwujudkan melalui tindakan nyata.
“Kita dapat memulainya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat air dan energi, menjaga kebersihan lingkungan, serta menanam dan merawat pohon,” kata Kepala LP3K UM Bandung tersebut.
Ia menambahkan, menanam pohon yang buahnya dimanfaatkan manusia atau hewan juga memiliki nilai sedekah dalam perspektif Islam.
Ace menegaskan bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari ibadah sekaligus wujud tanggung jawab manusia terhadap keberlangsungan kehidupan.
Belajar dari alam, dengan demikian, tidak hanya mengajak manusia merenungkan kebesaran Allah. Namun, menerapkan ilmu dan keimanan melalui tindakan nyata untuk merawat bumi.***(FA)
- Penulis: Feri Anugrah
