Musik Balada dan Desain Tekstil Jadi Cara Baru Menikmati Warisan Sunda
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
- visibility 43
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID, Bandung — Naskah kuno Sunda Sanghyang Siksa Kandang Karesian (SSKK) menjadi inspirasi bagi Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung untuk menghadirkan karya musik balada dan desain permukaan tekstil. Karya-karya tersebut dipamerkan di Lobi Berundak, kampus UM Bandung, Selasa (13/10/2026).
Melalui pendekatan seni, tim berupaya memperkenalkan kembali nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung dalam naskah berusia lebih dari lima abad itu kepada masyarakat.
Ketua PISN 2026 UM Bandung Saftiyaningsih Ken Atik mengatakan, pertunjukan dan pameran tersebut merupakan luaran program hibah yang didanai Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) RI.
Menurut Ken, mengolah naskah kuno menjadi narasi, visual, dan karya seni membutuhkan proses kreatif serta pemahaman mendalam terhadap isi naskah.
“Bagaimana kami menerjemahkan sebuah naskah menjadi narasi, menjadi visual dalam beberapa karya yang sudah kami tampilkan hari ini, itu bukanlah sesuatu hal yang mudah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, SSKK memuat berbagai ajaran tentang kehidupan, mulai dari nilai moral, budi pekerti, dan adat istiadat hingga pengetahuan tentang profesi masyarakat pada masa lalu.
Nilai-nilai tersebut kemudian diolah menjadi karya seni melalui syair, puisi, musik balada, dan desain permukaan tekstil. Dalam proses kreatifnya, tim berkolaborasi dengan komunitas seni dan musik balada Manjing-Manjang.
Ken berharap, karya-karya tersebut tidak hanya menjadi bentuk ekspresi seni, tetapi juga menjadi sarana untuk mengenalkan kearifan leluhur Sunda kepada generasi masa kini.
Ia mengajak masyarakat menikmati sekaligus menyerap pesan kehidupan yang disampaikan melalui lagu, puisi, dan desain tekstil.
“Silakan mengapresiasi, silakan menikmati, silakan membuka semua indera kita, untuk menyerap ajaran yang dilantunkan melalui lagu, puisi, dan melalui desain-desain yang tergambar pada hari ini,” kata Ken.
Sementara itu, Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM Bandung Ijang Faisal mengapresiasi upaya tim dalam mengolah hasil penelitian menjadi karya yang dapat dinikmati masyarakat.
Menurutnya, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa penelitian di perguruan tinggi dapat menghasilkan luaran yang tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga memiliki nilai seni dan manfaat bagi publik.
“Kami dari LPPM mengucapkan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Ibu Ken yang hari ini melaksanakan pameran dan pertunjukan terkait dengan karya-karya yang dihasilkan dari riset ini. Bu Ken ini merupakan contoh dosen yang luar biasa,” tutur Ijang.
Ia menegaskan, hibah penelitian seharusnya tidak dipandang sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai dukungan untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan dapat diakses masyarakat luas.
“Kalau yang lain, dapat hibah itu tujuan, kalau Bu Ken dapat hibah itu fasilitator saja, untuk menghubungkan bagaimana bisa menyampaikan kepada publik. Hibah itu bentuk kepercayaan, sedangkan karya adalah wujud tanggung jawab dan harus ada kebermanfaatannya,” ujarnya.
Ijang menambahkan, LPPM UM Bandung akan terus mendorong, memverifikasi, dan memamerkan produk-produk penelitian dosen yang didanai Kemendiktisaintek.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas publikasi hasil riset sekaligus mempertemukan inovasi akademik dengan kebutuhan masyarakat.***(FK)
- Penulis: Feri Anugrah
