Pendidikan Yang Baik Tak Hanya Mencerdaskan, Tapi Juga Membentuk Akhlak
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Senin, 31 Agt 2026
- visibility 28
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID, Bandung — Ilmu tidak hanya membuat seseorang lebih tahu. Lebih jauh, ilmu seharusnya membuat seseorang mampu memahami kehidupan, memperbaiki diri, dan memberi manfaat bagi orang lain.
Gagasan itu disampaikan Kaprodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Bandung Iim Ibrohim saat mengisi kajian Gerakan Subuh Mengaji (GSM) Aisyiyah Jawa Barat belum lama ini.
Menurut Iim, pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk manusia. Pendidikan tidak cukup hanya mengejar prestasi akademik, tetapi perlu menumbuhkan kesadaran, akhlak, kemandirian, dan kepedulian sosial.
“Kalau kita ingin benar-benar merdeka, maka kita harus membebaskan diri dari kebodohan. Ilmu menjadi salah satu jalan penting untuk mencapai kemerdekaan itu,” ujar Iim.
Dalam Islam, mencari ilmu juga berkaitan erat dengan adab. Pengetahuan yang luas perlu disertai akhlak agar ilmu tidak hanya menjadi kebanggaan pribadi, tetapi dapat digunakan untuk kebaikan.
“Ilmu tidak boleh dipisahkan dari adab. Orang berilmu tetapi tidak memiliki akhlak akan kehilangan arah,” katanya.
Karena itu, belajar bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan. Ada proses membentuk diri agar semakin bijak, rendah hati, dan mampu menempatkan ilmu pada jalan yang benar.
Iim mengajak umat melihat kembali tradisi keilmuan Islam yang diwariskan para ulama dan ilmuwan muslim.
Imam Hanafi, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Ghazali, hingga Ibnu Khaldun menjadi contoh bahwa ilmu dapat menjadi kekuatan untuk membangun kehidupan dan peradaban.
Semangat tersebut juga terlihat dalam perjuangan KH Ahmad Dahlan. Pendiri Muhammadiyah itu menjadikan pendidikan sebagai salah satu jalan untuk membangun masyarakat melalui perpaduan tauhid, ilmu, dan amal.
“Pendidikan jangan hanya dipahami sebagai urusan administrasi lembaga. Pendidikan adalah jihad intelektual untuk membebaskan manusia dari kebodohan,” tegas Iim.
Di tengah perkembangan teknologi, tantangan pendidikan semakin kompleks. Informasi semakin mudah diperoleh, tetapi kemampuan untuk memilah, memahami, dan menggunakannya secara bijak menjadi semakin penting.
Oleh karena itu, pendidikan perlu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi memiliki karakter kuat. Mereka diharapkan mampu berdiri sendiri sekaligus peka terhadap persoalan di sekitarnya.
Iim juga mendorong kader Muhammadiyah untuk membangun kemandirian ekonomi. Namun, kemandirian tersebut sebaiknya tidak berhenti pada kepentingan pribadi, melainkan menjadi modal untuk membantu dan menguatkan masyarakat.
“Jangan sampai kita hanya menjadi penerima manfaat. Kita harus menjadi orang yang mampu memberi manfaat,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi penting dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, ukuran keberhasilan seseorang tidak selalu ditentukan oleh seberapa tinggi pendidikan atau jabatan yang dimiliki, tetapi oleh seberapa besar manfaat yang dapat diberikan.
Iim menambahkan, ilmu agama dan ilmu umum tidak semestinya dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan bersama untuk membentuk generasi yang kuat dalam iman, luas dalam wawasan, dan siap menghadapi perubahan zaman.
Pada akhirnya, pendidikan adalah perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik. Ilmu menambah wawasan, adab menjaga perilaku, dan amal membuktikan bahwa ilmu benar-benar hidup dalam diri seseorang.
Semangat pendidikan seperti inilah yang diwariskan KH Ahmad Dahlan dan perlu terus dihidupkan. Belajar bukan hanya untuk menjadi pintar, tetapi untuk menjadi pribadi yang beriman, mandiri, dan kehadirannya membawa manfaat bagi sesama.***(FA)
- Penulis: Feri Anugrah
