Negeri Banyak Dusta
- account_circle Idat Mustari
- calendar_month Sabtu, 15 Agt 2026
- visibility 43
- comment 0 komentar
- print Cetak

Oleh: Drs. KH Idat Mustari, SH, MH || Pengamat Sosial dan Keagamaan
GENHALAL.ID — Ada negeri-negeri yang miskin sumber daya alam, tetapi rakyatnya hidup sejahtera. Sebaliknya, ada pula negeri yang dianugerahi kekayaan alam melimpah, namun sebagian besar rakyatnya masih bergulat dengan kemiskinan, sulitnya lapangan pekerjaan, ketimpangan, dan kehidupan yang serba terjepit.
Lalu, apa yang membedakan keduanya? Dalam perspektif Al-Qur’an, salah satu jawabannya adalah iman dan takwa.
Allah SWT berfirman: “Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf: 96)
Ayat tersebut mengingatkan bahwa kemakmuran sebuah negeri tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa banyak minyak, gas, batu bara, hutan, laut, tanah subur, atau kekayaan alam yang dimilikinya. Kekayaan yang tidak dikelola dengan amanah dapat berubah menjadi sumber ketimpangan. Sebab, persoalan terbesar sebuah bangsa terkadang bukan terletak pada miskinnya sumber daya alam, melainkan miskinnya kejujuran.
Di negeri yang kaya sumber daya alam, tetapi tidak mampu menghadirkan kesejahteraan secara adil, rakyat akhirnya hanya menjadi penonton. Mereka bersekolah dengan harapan mendapatkan pekerjaan yang layak. Mereka bekerja keras dengan harapan kehidupan menjadi lebih baik. Namun, ketika lapangan pekerjaan semakin sulit dan biaya hidup terus meningkat, harapan itu perlahan berubah menjadi kegelisahan.
Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, sebagian kecil orang justru menikmati kekayaan yang luar biasa. Karena di negeri seperti itu, boleh jadi dusta telah menjadi kebiasaan.
Kedustaan tidak hanya dilakukan oleh mereka yang berada di atas. Ia dapat menjalar ke berbagai lapisan masyarakat, dari kelas sosial ekonomi bawah hingga mereka yang berada di lingkaran kekuasaan dan kemapanan. Masyarakat kecil bisa berdusta kepada dirinya sendiri ketika memilih pemimpin bukan berdasarkan rekam jejak, integritas, dan hati nurani, melainkan karena selembar uang.
Sementara mereka yang memiliki kekuasaan, pendidikan, jabatan, dan pengaruh pun bisa menebarkan dusta dalam berbagai bentuk. Yang lebih menyedihkan, kedustaan itu terkadang begitu rapi dikemas sehingga banyak orang mempercayainya sebagai sebuah kebenaran.
Inilah ironi negeri yang kehilangan kompas moral. Di negeri yang banyak dustanya, seseorang yang ingin mengabdi kepada bangsa terkadang justru harus melewati jalan yang bertentangan dengan etika dan moral. Mereka yang memilih tetap jujur bisa dianggap naif. Mereka yang mempertahankan prinsip dapat dicap tidak mampu menyesuaikan diri dengan keadaan.
Kejujuran bahkan bisa dianggap sebagai sebuah keanehan. Orang yang tidak mau mengikuti arus kepalsuan disebut tidak bisa hidup harmonis dengan lingkungannya. Orang yang berani berkata benar dianggap sedang mencari masalah. Sedangkan mereka yang memilih diam, mengikuti arus, atau membenarkan sesuatu yang salah justru dianggap mampu menjaga hubungan baik.
Bukankah keadaan seperti ini berbahaya?
Sebab ketika kebohongan menjadi kebiasaan, kejujuran perlahan kehilangan tempat. Ketika kepalsuan dianggap lumrah, orang yang berkata benar justru tampak berbeda.Dan ketika masyarakat mulai terbiasa membenarkan yang salah, maka kerusakan moral tidak lagi dianggap sebagai persoalan.
Kalaupun ada orang jujur yang mampu duduk di tempat tinggi, boleh jadi bukan semata-mata karena kekuatannya sendiri. Bisa jadi ada perlindungan Tuhan yang membuatnya tetap teguh, bersih, dan tidak larut dalam lingkungan yang penuh kepentingan.
Di negeri yang banyak dustanya, mencari orang yang benar-benar tidak berdusta bukan perkara mudah. Bahkan yang lebih menyedihkan, dusta terkadang datang dari mereka yang dikenal memiliki ilmu agama. Nilai-nilai moral disampaikan dengan fasih, tetapi tidak selalu diwujudkan dalam perilaku.
Di sinilah kita perlu memahami bahwa korupsi pada dasarnya tidak lahir secara tiba-tiba. Korupsi bermula dari ketidakjujuran. Ketidakjujuran membutuhkan dusta untuk menutupinya. Dusta kemudian melahirkan pembenaran, dan pembenaran yang terus dipelihara akhirnya membuat seseorang kehilangan rasa bersalah.
Karena itu, pemberantasan korupsi tidak cukup hanya dengan menangkap pelaku atau menghukum mereka yang terbukti bersalah. Bangsa ini juga membutuhkan revolusi moral: membangun kembali budaya malu, budaya jujur, budaya amanah, dan keberanian untuk mengatakan bahwa yang salah memang salah.
Lalu, pertanyaan besarnya adalah: Apakah negeri Merah Putih yang kita cintai ini sudah menjadi negeri yang banyak dustanya? Jawablah dengan hati nurani masing-masing. Jangan karena pertanyaan itu sulit, kemudian kita kembali berdusta. Sebab, mungkin persoalan terbesar bangsa ini bukan karena kita tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Kita sebenarnya tahu.
Yang menjadi persoalan adalah apakah kita masih memiliki keberanian untuk memilih yang benar ketika kepentingan pribadi menuntut kita memilih sebaliknya. Indonesia telah 81 tahun merdeka. Kemerdekaan bukan hanya terbebas dari penjajahan. Kemerdekaan juga semestinya menjadi jalan menuju masyarakat yang adil, bermartabat, sejahtera, dan berkeadaban.
Maka di usia ke-81 ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah kemerdekaan membuat kita semakin jujur? Sudahkah kekayaan negeri ini dikelola dengan amanah? Sudahkah kekuasaan dipergunakan untuk kepentingan rakyat?. Dan sudahkah kita berani mengatakan tidak kepada dusta, meskipun kejujuran terkadang membuat kita harus berjalan sendirian?
Semoga Indonesia bukan hanya menjadi negeri yang kaya akan sumber daya alam, tetapi juga kaya akan manusia-manusia yang amanah. Semoga Indonesia bukan hanya maju secara ekonomi, tetapi juga tinggi martabat moralnya. Dan semoga di usia ke-81 tahun, Indonesia menjadi negeri yang diberkahi, sebagaimana janji Allah kepada negeri yang beriman dan bertakwa.
Dirgahayu Indonesiaku. Merdeka dengan kejujuran. Wallahua’lam
- Penulis: Idat Mustari
