Akademi Sejarah Batch 2: Merajut Kebersamaan Muhammadiyah-NU dari Surabaya
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Selasa, 11 Agt 2026
- visibility 47
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID — Akademi Sejarah Batch 2 resmi digelar di Surabaya pada Jumat, 7 Agustus 2026. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Majelis Pustaka Indonesia ini diikuti oleh perwakilan Muhammadiyah dari berbagai daerah di Indonesia, mewakili beragam kalangan.
Berlangsung selama lima hari dengan menghadirkan sejumlah pemateri berpengalaman, acara ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali semangat penulisan sejarah Muhammadiyah, khususnya di tingkat lokal.
Di tengah padatnya rangkaian acara, salah satu agenda yang cukup menarik perhatian adalah kunjungan ke sejumlah situs bersejarah yang berkaitan dengan Muhammadiyah di Surabaya. Beberapa lokasi yang dikunjungi antara lain kompleks pemakaman di sekitar Masjid Sunan Ampel, rumah H.O.S. Tjokroaminoto di kawasan Peneleh, Langgar Gapo, serta Masjid Attaqwa yang dahulu sempat menjadi tempat tinggal Haji Mansur.
Yang menarik, di tengah pemberitaan media mengenai gesekan antara Muhammadiyah dan NU di beberapa daerah, Surabaya justru menampilkan wajah kebersamaan yang patut dijadikan teladan. Kebersamaan itu terekam dalam jejak sejarah yang tidak pernah lekang oleh waktu, dan masih terasa hingga kini.
Sebagaimana tercatat dalam sejarah, Hasan Gipo, Ketua Umum pertama PBNU, ternyata masih memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan Hasan Mansur, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah ke-4. Bahkan, jika memasuki kompleks Masjid Ampel, kita dapat menjumpai makam kedua tokoh tersebut berada dalam satu kompleks yang sama — sebuah gambaran kebersamaan yang semestinya terus digaungkan.
Tidak berhenti di situ, tidak jauh dari kompleks tersebut, para peserta juga berkesempatan mengunjungi beberapa langgar, di antaranya Langgar Gipo dan Langgar KH Mas Mansur. Menariknya, saat berada di Langgar Gipo — yang kini telah berstatus cagar budaya dan masih aktif menjadi pusat kegiatan NU setempat — peserta dan tuan rumah larut dalam diskusi hangat, terutama seputar sejarah yang berkaitan dengan Muhammadiyah.
Agenda semacam ini menjadi pengalaman berharga bagi seluruh peserta, yang sebagian di antaranya merupakan pegiat sejarah, bahkan tidak sedikit yang telah menulis buku sejarah Muhammadiyah di daerah masingmasing.
- Penulis: Tim Redaksi
- Sumber: Rilis Akademik Sejarah
