Apoteker Beragama Katolik Ini Lulus dengan IPK Tertinggi dari Angkatan Pertama UM Bandung
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Sabtu, 3 Okt 2026
- visibility 19
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHLAL.ID, Bandung — Rektor Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Herry Suhardiyanto mendorong apoteker lulusan UM Bandung menjadi tenaga profesional yang berintegritas dan memiliki kepedulian terhadap pelayanan kesehatan masyarakat.
Pesan tersebut disampaikan Herry seusai prosesi pengambilan sumpah 12 apoteker UM Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 751, Sabtu (3/10/2026).
Kedua belas apoteker tersebut merupakan lulusan angkatan pertama Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker UM Bandung. Seluruh lulusan juga dinyatakan lulus 100 persen dalam ujian kompetensi nasional.
Herry mengatakan capaian tersebut menjadi langkah awal bagi para lulusan untuk ikut membangun reputasi profesi apoteker UM Bandung.
“Selamat kepada para apoteker yang sudah disumpah. Anda sekalian adalah pelopor yang ikut membentuk reputasi apoteker UM Bandung dengan prestasi yang membanggakan,” ujar Herry.
Ia mengingatkan para apoteker agar tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan profesi.
Menurut Herry, perkembangan ilmu farmasi, teknologi kesehatan, dan regulasi yang terus berubah menuntut apoteker untuk selalu memperbarui pengetahuan serta kompetensinya.
Selain kompetensi, Herry menekankan pentingnya kemampuan berkolaborasi ketika memasuki dunia kerja. Kolaborasi diperlukan, baik dengan sesama apoteker maupun tenaga kesehatan dari berbagai profesi.
“Jadilah apoteker yang peduli kepada masyarakat, terutama mereka membutuhkan pelayanan kesehatan. Teruslah memperkuat layanan kesehatan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah sekaligus Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UM Bandung Dadang Kahmad berpesan agar para apoteker menjadi pribadi yang andal, berakhlak, amanah, dan terus mengembangkan keilmuan.
Menurut Dadang, kemampuan akademik perlu berjalan beriringan dengan soft skill. Para apoteker juga perlu memiliki kemampuan berkomunikasi, membangun relasi, bekerja sama, serta menunjukkan akhlak yang baik.
“Ilmu harus disertai dengan kemampuan untuk berkomunikasi, membangun relasi, bekerja sama, dan memiliki kepribadian yang baik,” ujarnya.
Dekan Farmasi UM Bandung Dwintha Lestari menegaskan bahwa sumpah apoteker bukan sekadar teks yang diucapkan dalam prosesi pelantikan.
Sumpah tersebut menjadi landasan moral dan profesional dalam menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan kepedulian terhadap kemanusiaan.
Dwintha meminta para lulusan menghayati setiap poin sumpah yang telah diikrarkan serta menjaga etika dan profesionalisme dalam menjalankan profesi.
“Di mana pun Anda mengabdi, junjung tinggi etika dan profesionalisme. Teruslah belajar karena dunia kefarmasian saat ini terus berkembang. Kami titip jaga nama baik UM Bandung,” ujar Dwintha.
Salah satu apoteker yang diambil sumpahnya, Fransisca Natalia Hedy, meraih IPK tertinggi dengan nilai 3,96.
Fransisca mengaku nyaman menjalani pendidikan profesi apoteker di UM Bandung meskipun dirinya beragama Katolik.
Ia mengatakan tidak mengalami diskriminasi berdasarkan latar belakang agama selama mengikuti perkuliahan di kampus yang berada di bawah naungan Muhammadiyah.
“Saya enjoy bisa kuliah di UM Bandung. Tidak ada diskriminasi terkait latar belakang agama,” ucap Fransisca.
Dalam mengikuti mata kuliah agama, Fransisca memilih memahami berbagai persamaan dan mengesampingkan perbedaan. Menurutnya, sikap tersebut membuat proses pembelajaran berlangsung dalam suasana saling menghargai.
Fransisca juga mengaku bahagia menjadi bagian dari angkatan pertama Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker UM Bandung.
Ia menilai dukungan dosen dan fasilitas pembelajaran turut membantu dirinya menyelesaikan pendidikan profesi.
Setelah mengucapkan sumpah, Fransisca berkomitmen menjalankan profesinya secara profesional dengan menjunjung kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat tanpa memandang latar belakang.
Selain Fransisca, 11 apoteker lainnya yang resmi diambil sumpah yakni Andriyani Putri Kusuma, Azra Syafira, Eka Nurhayati, Fikta Rialas Lina, Ganjar Permana, Intan Putri Kurniati, Jasmine Trialisa, Mohammad Al-Hafiz, Nafilah Azzahra, Novia Dwiyanti, dan Sintia.
Dari 12 lulusan tersebut, 10 orang meraih predikat pujian, sedangkan dua lainnya meraih predikat sangat memuaskan dan memuaskan.
Prosesi tersebut menjadi pengambilan sumpah pertama yang digelar Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker UM Bandung.
Kegiatan berlangsung tertib dan khidmat dengan disaksikan pimpinan universitas serta keluarga para lulusan. Prosesi tersebut sekaligus menandai dimulainya perjalanan profesional apoteker angkatan pertama UM Bandung.
Hadir dalam kegiatan tersebut perwakilan Kolegium Farmasi Indonesia Hidayat Setiadji, perwakilan APTFMA Aziz, perwakilan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat Epy Yuginingsih, Pengurus Pusat dan Daerah Ikatan Apoteker Indonesia (IAI), serta para perseptor dari lima wahana Praktik Kerja Profesi Apoteker.***(FA)
- Penulis: Feri Anugrah
