Saat AI Masuk Ruang Kuliah, FAI UM Bandung Ingatkan Soal Etika
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Kamis, 1 Okt 2026
- visibility 27
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID, Bandung — Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung mendorong dosen dan mahasiswa memanfaatkan Artificial Intelligence (AI) dalam kegiatan akademik secara kritis, etis, dan bertanggung jawab.
Dekan FAI UM Bandung Cecep Taufikurrohman MA PhD mengatakan, perkembangan teknologi harus tetap diiringi adab dan etika dalam proses menuntut ilmu.
“Sejatinya sebelum ilmu itu intinya adab dulu. Kalau adabnya bagus, ilmunya juga pasti bagus. Kalau adabnya tidak bagus, ilmunya pun sama tidak bagus,” ujar Buya Cecep saat membuka Stadium Generale FAI UM Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan, Rabu (30/09/2026).
Menurut Cecep, Stadium Generale menjadi tradisi akademik untuk mengawali tahun akademik sekaligus membangun semangat sivitas akademika.
Tahun ini, kegiatan tersebut membahas pemanfaatan teknologi informasi dan AI untuk mendukung pembelajaran, penulisan karya ilmiah, penelitian, hingga penyelesaian tugas akhir.
Cecep menilai AI merupakan bagian dari perkembangan peradaban yang telah memasuki berbagai bidang, termasuk pendidikan dan keagamaan.
Oleh karena itu, AI tidak perlu dihindari, tetapi harus dipahami dan digunakan secara tepat.
“AI jangan dibiarkan, dihindari, apalagi dimusuhi. Teknologi ini harus kita pahami dan manfaatkan secara bijak agar tidak justru membuat manusia bergantung, malas berpikir, dan kehilangan kemampuan untuk berkembang,” katanya.
Ia menekankan, pemanfaatan AI di perguruan tinggi harus tetap menjaga integritas akademik.
Dosen dan mahasiswa perlu memahami batas etika agar AI tidak digunakan untuk memanipulasi tugas atau menghasilkan karya akademik tanpa proses berpikir yang memadai.
Untuk memperkuat pemahaman tersebut, FAI UM Bandung menghadirkan Dosen Kelompok Keahlian Fisika Teoretik Institut Teknologi Bandung (ITB) Dr Wahyu Hidayat SSi MSi sebagai narasumber.
Wahyu mengatakan, transformasi digital di perguruan tinggi menuntut dosen dan mahasiswa tidak hanya mampu menggunakan teknologi. Namun, juga memahami cara memanfaatkannya secara kritis dan bertanggung jawab.
Menurutnya, AI dapat membantu pembelajaran, penulisan karya ilmiah, dan penelitian. Namun, AI bukan mesin yang mengetahui seluruh informasi secara mutlak.
AI merupakan sistem yang dilatih menggunakan data dalam jumlah besar untuk menghasilkan prediksi, rekomendasi, atau konten.
Oleh karena itu, penggunaan AI tetap membutuhkan kemampuan berpikir kritis. Termasuk memeriksa kembali kebenaran informasi yang dihasilkan sebelum digunakan dalam kegiatan akademik.
Wahyu juga menekankan pentingnya etika, integritas akademik, dan prinsip responsible AI.
Pemanfaatan AI dalam pembelajaran, penelitian, dan asesmen perlu mempertimbangkan manfaat sekaligus risikonya.
“Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu dosen dan mahasiswa meningkatkan kualitas akademik. Sementara tanggung jawab intelektual, proses berpikir, dan keputusan akhir tetap berada pada manusia,” jelasnya.
Cecep berharap kegiatan tersebut tidak hanya menambah wawasan sivitas akademika tentang AI.
Namun, memperkuat kesadaran untuk tetap mengedepankan adab dalam setiap proses pembelajaran.
Ia berharap Stadium Generale tersebut menjadi majelis ilmu yang memberikan manfaat dan keberkahan bagi seluruh peserta.***
- Penulis: Feri Anugrah
