Kamis, 8 Okt 2026

Nyangu dan Rasa Syukur: Selisik Ritual Penghayat Kepercayaan Bersama Magister Studi Agama-Agama

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
  • visibility 89
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

GENHALAL.ID — Sebanyak 15 mahasiswa semester 3 Magister Studi Agama-Agama (SAA) UIN Sunan Gunung Djati Bandung mengikuti kuliah lapangan mata kuliah Praktik Tradisi Keagamaan di Pasewakan Wangun Sari Jati Mandiri, Sariwangi, Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (24/9/2026).

Didampingi dosen pengampu Dr. Neng Hannah, M.Ag., mahasiswa tidak hanya mempelajari tradisi keagamaan melalui buku dan ruang kelas, tetapi hadir secara langsung untuk mengamati, mengalami, dan merefleksikan praktik spiritual masyarakat Penghayat Kepercayaan Perjalanan.

Pasewakan Wangun Sari Jati Mandiri merupakan salah satu pusat musyawarah dan kegiatan spiritual masyarakat Penghayat Kepercayaan Perjalanan di wilayah Kabupaten Bandung Barat. Dalam kunjungan ini, mahasiswa diperkenalkan pada salah satu praktik keseharian yang ternyata memiliki dimensi spiritual dan filosofis yang mendalam, yaitu nyangu, atau proses memasak nasi.

Dipandu oleh Teh Wiwin (Puanhayati Kota Bandung), para mahasiswa mempraktikkan langsung tahapan nyangu dengan metode nyeupan atau mengukus. Proses dimulai dari mengambil beras dari padaringan/pabéasan di dalam goah, mencuci beras (ngisikan), mengukus hingga setengah matang (ngagigihan), melakukan ngarih, mengukus kembali hingga matang (timus), kemudian ngakeul hingga nasi menjadi pulen dan siap disajikan.

Setiap tahapan tidak dipahami semata-mata sebagai teknik memasak. Di dalamnya terdapat tata krama, pantangan (kapamalian), doa, dan penghormatan terhadap beras, makanan, alam, leluhur, serta kehidupan. Bahkan, sejumlah peralatan seperti boboko, dulang, aseupan, sééng, dan hihid memiliki tempat penting dalam keseluruhan proses.

Abah Wahyu sesepuh Penghayat Kepercayaan Perjalanan Bandung Barat juga Ketua RT 01/RW012 Sariwangi Parongopng KBB dan Teh Wiwin menjelaskan mitologi yang melatarbelakangi tradisi nyangu. Cerita leluhur ini menjadi bagian dari tradisi oral yang menjelaskan mengapa proses memasak nasi harus dilakukan secara tertib, bertahap, penuh kehati-hatian, dan tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

Mahasiswa diperkenalkan dengan jampé yang secara tradisional dirapalkan dalam proses memasak nasi. Salah satu jampé mengandung ungkapan penghormatan kepada Tuhan Yang Maha Suci, para leluhur, Ibu Agung, Rama Agung, serta Nyi Mas Pohaci Sang Dayang Trisnawati. “Praktik ini menunjukkan bagaimana aktivitas domestik dapat menjadi ruang artikulasi religiusitas dan hubungan manusia dengan yang sakral.”

Rangkaian kuliah lapangan ditutup dengan makan bersama. Momen sederhana ini justru menjadi bagian yang sangat bermakna. Setelah mahasiswa terlibat langsung dalam proses mengambil beras, mencuci, mengukus, mengolah, hingga memasak nasi, mereka kemudian menyantap hasil olahan tersebut bersama-sama.

Dalam kesempatan itu, Abah Wahyu mengajak mahasiswa merefleksikan hubungan manusia dengan alam dan makanan yang dikonsumsinya. Menurut penjelasannya, manusia pada dasarnya memiliki hutang budi kepada alam. “Setiap butir nasi yang masuk ke dalam tubuh bukan sekadar makanan, tetapi merupakan hasil dari rangkaian kehidupan: tanah, air, matahari, benih, tumbuhan, kerja manusia, serta berbagai unsur alam lainnya.”

Karena itu, makanan tidak dipandang sekadar sebagai sesuatu yang mengenyangkan tubuh. Zat-zat yang masuk ke dalam tubuh diyakini turut memengaruhi kualitas spiritual seseorang. Cara memperoleh makanan, mengolahnya, memperlakukannya dengan hormat, hingga cara menyantapnya menjadi bagian dari hubungan manusia dengan kehidupan dan alam semesta.

Refleksi itu membuat makan bersama menjadi lebih dari sekadar penutup kegiatan. Mahasiswa diajak menyadari bahwa setiap suapan memiliki sejarah, kerja, kehidupan, dan relasi ekologis yang panjang. Kesadaran ini sekaligus mengajak manusia untuk tidak mengambil alam secara berlebihan dan tidak memandang makanan sebagai komoditas semata.

Bagi mahasiswa SAA, pengalaman ini menjadi pembelajaran penting bahwa agama tidak selalu hadir dalam bentuk doktrin, ritual formal, atau institusi keagamaan. Agama dapat ditemukan dalam praktik sehari-hari, makanan, relasi dengan alam, tradisi lisan, tubuh, benda, dan cara manusia memperlakukan kehidupan.

“Melalui kuliah lapangan ini, mahasiswa belajar untuk tidak buru-buru menilai sebuah tradisi berdasarkan kategori agama yang sudah mereka miliki. Mereka belajar hadir, mendengar, mengamati, mengalami, dan memahami makna dari sudut pandang komunitas pemilik tradisi,” ujar Dr. Neng Hannah.

Dengan demikian, nyangu akhirnya bukan sekadar praktik memasak nasi. menjadi pintu masuk untuk memahami cara sebuah komunitas memaknai Tuhan, leluhur, alam, makanan, tubuh, dan kehidupan. Dari dapur dan tungku sederhana, mahasiswa belajar satu hal yang sangat mendasar dalam studi agama, bahwa pengalaman keberagamaan sering kali justru hidup dan berakar kuat dalam praktik keseharian manusia.

Rekomendasi Untuk Anda

  • Panduan Lolos Sanksi Produk Tidak Bersertifikat Halal dan Solusinya

    Panduan Lolos Sanksi Produk Tidak Bersertifikat Halal dan Solusinya

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 39
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID — Pelaku usaha yang nekat menjual barang tanpa label halal resmi kini terancam sanksi administratif hingga penarikan produk dari peredaran. Aturan tegas dari Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal ini bertujuan melindungi konsumen sekaligus menciptakan persaingan usaha yang jujur. Selain itu, pencabutan izin edar juga bisa diberlakukan jika pelanggaran tersebut terus diulangi. Aturan jaminan produk […]

  • Agama di Era AI, Tantangannya Bukan Bertahan Tapi Harus Tetap Relevan

    Agama di Era AI, Tantangannya Bukan Bertahan Tapi Harus Tetap Relevan

    • calendar_month Senin, 5 Okt 2026
    • account_circle Feri Anugrah
    • visibility 12
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID.COM, Bandung — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menilai agama tidak akan kehilangan relevansinya di tengah modernisasi dan sekularisasi. Sebaliknya, agama tetap memiliki masa depan jika mampu beradaptasi dengan perubahan dan menghadirkan nilai yang nyata dalam kehidupan masyarakat. Hal itu disampaikan Haedar saat peluncuran buku yang berjudul “Muhammadiyah dan Masa Depan Agama” karya […]

  • ICON-IMAD XV 2026: Saatnya Membumikan Ekoteologi Melayu-Islam di Era Multipolar

    ICON-IMAD XV 2026: Saatnya Membumikan Ekoteologi Melayu-Islam di Era Multipolar

    • calendar_month Rabu, 29 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 88
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID — Di tengah hiruk-pikuk disrupsi global, Program Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar perhelatan akbar Konferensi Internasional tentang Islam di Dunia Melayu atau International Conference on Islam in the Malay World (ICON-IMAD) ke-XV. Berlangsung selama tiga hari, 27–29 Juli 2026, forum akademik bergengsi ini mengusung tema sentral “Ekoteologi Melayu-Islam sebagai Ketahanan Budaya di […]

  • Usung Semangat Berintegritas dan Berdampak, UM Bandung Siap Gelar Wisuda Ke-9

    Usung Semangat Berintegritas dan Berdampak, UM Bandung Siap Gelar Wisuda Ke-9

    • calendar_month Rabu, 9 Sep 2026
    • account_circle Feri Anugrah
    • visibility 106
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID, Bandung – Suasana Universitas Muhammadiyah Bandung (UM Bandung) mulai terasa berbeda menjelang pelaksanaan Wisuda ke-9 yang akan digelar pada Sabtu, 12 September 2026, di Auditorium KH Ahmad Dahlan. Bagi para wisudawan dan wisudawati, wisuda bukan sekadar seremoni untuk menandai berakhirnya perjalanan akademik. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi sebuah prosesi sakral yang telah dinantikan […]

  • Guru Besar UIN Jakarta: Saatnya Rekognisi Pesantren Perlu Diikuti Afirmasi Anggaran

    Guru Besar UIN Jakarta: Saatnya Rekognisi Pesantren Perlu Diikuti Afirmasi Anggaran

    • calendar_month Jumat, 25 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 49
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID —  Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. H. Suwendi, M.Ag., mengatakan rekognisi negara terhadap pesantren perlu diikuti dengan afirmasi kebijakan dan anggaran. Menurutnya, pengakuan terhadap pesantren tidak cukup berhenti pada aspek regulasi, tetapi perlu diwujudkan dalam dukungan yang memungkinkan pesantren terus meningkatkan mutu pendidikan dan memperkuat kontribusinya bagi masyarakat. Hal itu disampaikan […]

  • Panduan Perbedaan Sertifikat Halal MUI dan BPJPH untuk Pelaku Usaha

    Panduan Perbedaan Sertifikat Halal MUI dan BPJPH untuk Pelaku Usaha

    • calendar_month Sabtu, 19 Sep 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • visibility 29
    • 0Komentar

    GENHALAL.ID — MUI kini bertindak sebagai lembaga yang mengeluarkan fatwa kehalalan melalui sidang ulama, sementara BPJPH adalah badan pemerintah yang resmi menerbitkan sertifikat halal setelah produk tersebut dinyatakan suci. Dulu seluruh proses diurus satu pintu oleh MUI, namun kini kewenangan legalitas hukum berpindah ke tangan negara melalui BPJPH. Proses saat ini mewajibkan pelaku usaha mendaftar ke […]

expand_less