Bagaimana RI Memanfaatkan Kesepakatan Xi Jinping – al-Sisi?
- account_circle Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.
- calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
- visibility 35
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID — Awal September lalu, Xi Jinping bertandang ke Mesir. Selain sepakat soal penggunaan mata uang lokal (yuan-pound) dalam perdagangan, energi hijau, dan kecerdasan buatan, Xi dan Presiden Mesir Abdul Fattah al-Sisi menegaskan komitmen memperluas Kawasan Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan China-Egypt TEDA Suez (TEDA SETZ) ke Fase 3.
Kenapa ini penting bagi Indonesia?
Karena di balik ekspansi kawasan industri ini, tersimpan peluang besar yang jarang dilirik, yaitu jalur pintas menembus pasar Uni Eropa, di tengah proses ratifikasi perjanjian dagang Indonesia-Uni Eropa (IEU CEPA) yang masih molor (baru ditarget diteken akhir 2026, efektif awal 2027).
Mesir adalah pemilik Terusan Suez, gerbang konektivitas Asia-Afrika-Eropa. TEDA SETZ sendiri dikembangkan Tianjin TEDA Investment Holding bersama pemerintah Mesir, berlokasi di Ain Sokhna sekitar 120 km dari Kairo dan 2 km dari Pelabuhan Ain Sokhna. Di atas lahan 7,34 km persegi ini, 200 ratus perusahaan manufaktur, logistik, dan jasa sudah menanamkan investasi bernilai miliaran dolar.
Beijing punya tiga alasan besar mengembangkan kawasan ini:
1. Terusan Suez memangkas waktu pelayaran 10-14 hari dibanding memutar lewat Tanjung Harapan, hemat logistik hingga ratusan ribu dolar per pelayaran.
2. Lewat TEDA, Tiongkok bisa “offshoring” kapasitas manufaktur untuk menghindari perang dagang dan tarif impor ke negara Barat.
3. BRI Tiongkok berpadu dengan Visi Mesir 2030, yang ingin mengubah Mesir dari ekonomi berbasis jasa/SDA jadi hub manufaktur regional.
Hasilnya, pengiriman barang manufaktur dari Suez ke Eropa cuma butuh 3-7 hari, dibanding 25-35 hari kalau dikirim langsung dari Asia Tenggara.
Potensi ini ada mengingat perdagangan Indonesia-Mesir sudah on-track. Total nilai bilateral 2025 tembus 2,38 miliar dolar AS, tumbuh rata-rata 6,16% per tahun dalam lima tahun terakhir. Ekspor RI ke Mesir bahkan tertinggi se-Afrika, senilai 1,94 miliar dolar AS pada 2025, didominasi CPO, kopi, rempah, produk kimia, dan aluminium. Neraca dagang RI surplus 1,50 miliar dolar AS. Semester I 2026 pun masih tumbuh: total dagang 1,74 miliar dolar AS, ekspor RI 1,09 miliar dolar AS.
Masalahnya, produk-produk ini selama ini “mentok” di pasar domestik Mesir atau sekitarnya. Padahal, dengan TEDA Suez Fase 3, ada peluang melempar produk itu lebih jauh sampai ke Uni Eropa.
Tembok terbesar RI ke pasar Eropa bukan cuma tarif. Meski IEU-CEPA akan membebaskan tarif 98% komoditi sampai 0 persen, Uni Eropa masih menerapkan hambatan non-tarif seperti Regulasi Defforestasi (EU Deforestation Regulation-EUDR) dan batas karbon (Carbon Border Adjustment Mechanism-CBAM) yang tetap berlaku.
Di sinilah keunggulan Mesir bisa “dipinjam”. Kairo sudah punya beberapa perjanjian dengan Eropa:
1. EU-Egypt Association Agreement: Mesir sudah punya perjanjian perdagangan bebas (FTA) dengan Uni Eropa sejak 2004, memberi akses bebas tarif dan kuota untuk hampir semua produk manufaktur asal Mesir.
2. Jaringan FTA lain: Agadir Agreement, COMESA, GAFTA makin memperluas akses pasar ke kawasan Arab dan Afrika.
3. Rule of Origin sebagai kunci: Produk tak harus 100% dibuat dari bahan Mesir untuk diakui “Made in Egypt”. Cukup memenuhi nilai tambah lokal minimal 40% dari harga keluar pabrik sebelum diangkut (harga ex-works).
Artinya, Indonesia tidak perlu memindahkan seluruh rantai produksi ke Mesir. Cukup kirim bahan baku atau komponen setengah jadi seperti turunan sawit, karet olahan, produk kimia, besi baja, komponen elektronik ke TEDA Suez Fase 3. Di sana, lewat joint venture atau investasi mandiri, dilakukan pemrosesan lanjutan, perakitan, pengemasan, dan kontrol kualitas hingga nilai tambah menembus ambang 40%. Produk pun berhak dapat Certificate of Origin Form EUR.1 dari otoritas Mesir, lalu melenggang ke pasar Eropa tanpa tarif tinggi, tanpa kuota ketat, dan pemeriksaan lingkungan yang relatif lebih akomodatif.
Komoditas RI yang Paling Siap adalah:
1. CPO dan Oleokimia: CPO mentah sering terbentur EUDR. Tapi kalau diproses jadi bahan baku kosmetik, sabun, atau gliserin di TEDA, jalur ekspornya ke Eropa jadi lebih mulus lewat sertifikasi Mesir.
2. Karet Alam dan Komponen Otomotif: Mesir sedang dibidik jadi hub kendaraan listrik dan otomotif regional. Karet RI bisa jadi komponen ban atau sealing system untuk pasar Mesir maupun Eropa.
3. Tekstil, Benang Sintetis, Apparel: Klaster tekstil TEDA berkembang pesat. RI bisa memasok bahan setengah jadi untuk dijahit dan finishing di sana.
4. Olahan Hasil Laut: Fasilitas cold storage dan pengalengan di TEDA bisa mengatasi kendala kesegaran dan standar mutu Eropa yang selama ini jadi masalah kalau ekspor langsung dari Indonesia.
Momentum yang Tak Boleh Dilewatkan
Ekspansi TEDA Suez Fase 3 ini adalah momentum geopolitik yang seharusnya bikin Indonesia tak sekadar jadi penonton. Infrastruktur fisik, efisiensi logistik, dan iklim investasi sudah tersedia di titik geografis paling strategis dunia.
Dengan memanfaatkan rule of origin dan FTA Mesir-Uni Eropa, RI punya “pintu belakang” yang sah secara hukum internasional untuk melompati tembok proteksionisme dan tarif tinggi Eropa tanpa perlu menunggu IEU-CEPA rampung. Ini bukan berarti menghilangkan industrialisasi dalam negeri, tapi strategi memperluas rantai nilai global untuk merebut ceruk pasar yang selama ini sulit dijangkau.
Tiga Rekomendasi Kebijakan
1. Konsorsium BUMN-Swasta di TEDA: Kementerian BUMN, Kementerian Investasi/BKPM, dan Kemenperin perlu menginisiasi konsorsium perusahaan nasional untuk membuka Indonesian Processing Sub-Zone atau jadi anchor tenant di TEDA Suez Fase 3. Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara jangan jago kandang, tapi bisa berinvestasi di sini.
2. Diplomasi Dagang Bilateral RI-Mesir: perlu perjanjian kerja sama ekonomi dan fasilitasi kepabeanan khusus agar bahan mentah RI yang masuk TEDA mendapat insentif dan kemudahan sertifikasi Country of Origin.
3. Peta Jalan Penyelarasan Standar Produk: Kemendag bersama KADIN perlu memetakan komoditas (CPO, karet, tekstil) yang paling siap memenuhi local content Mesir untuk diserap pasar Uni Eropa.
Sudah saatnya diplomasi ekonomi Indonesia bergeser dari sekadar berunding di meja CEPA, menuju aksi nyata menanam investasi strategis di jantung Terusan Suez.
Budhiana Kartawijaya, Journalist.
(Tulisan ini vers ringkas dari substack saya. Link di kolom komentar)
- Penulis: Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.
