Ketika Dunia Kerja Berubah, Sarjana Dituntut Lebih dari Sekadar Memiliki Gelar
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
- visibility 35
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID, Bandung – Toga memang belum dikenakan. Namun, bagi 684 calon wisudawan dan wisudawati Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, satu fase penting dalam perjalanan pendidikan sudah berada di depan mata.
Gelar sarjana yang sebentar lagi disandang bukanlah tanda bahwa proses belajar telah selesai.
Justru sebaliknya, gelar tersebut menjadi awal dari perjalanan yang lebih panjang: membawa ilmu keluar dari ruang kelas, menggunakannya untuk menghadapi perubahan zaman, sekaligus menghadirkan manfaat bagi kehidupan.
Pesan itulah yang mengemuka dalam kegiatan Baitul Arqam Purna Studi (BAPS) UM Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan pada Kamis (10/09/2026).
Para calon lulusan tidak hanya diajak mempersiapkan diri memasuki dunia kerja. Namun, diajak kembali melihat untuk apa pendidikan dan ilmu yang selama ini mereka perjuangkan.
Salah satu sesi pembekalan mengangkat tema “Sarjana Berkemajuan” yang disampaikan Kepala Lembaga Pengkajian dan Pengembangan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (LPPAIK) UM Bandung Dr Dikdik Dahlan Lukman MHum.
Dalam pemaparannya, Dikdik membawa para calon lulusan melihat realitas yang akan mereka hadapi setelah meninggalkan kampus.
Dunia kerja semakin dinamis, teknologi berkembang begitu cepat, dan kecerdasan buatan (AI) mulai mengubah cara manusia bekerja serta jenis kompetensi yang dibutuhkan.
Dalam situasi seperti itu, menurut Dikdik, ijazah saja tidak cukup. Bahkan, keberhasilan seorang sarjana tidak semestinya hanya diukur dari seberapa cepat ia mendapatkan pekerjaan setelah lulus.
Ada sesuatu yang lebih mendasar, yakni karakter yang membuat ilmu dan keahlian memiliki arah serta nilai.
Dikdik menyebut lima karakter yang perlu menjadi fondasi lulusan UM Bandung, yaitu beriman, berilmu, berintegritas, berkemajuan, dan berkemanfaatan.
Kelima karakter tersebut menjadi satu kesatuan. Kompetensi akademik dan profesional perlu berjalan bersama iman dan integritas. Sementara itu, semangat untuk terus berkembang harus diiringi kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Sarjana berkemajuan bukan hanya sarjana yang berilmu. Namun, sarjana yang ilmunya berorientasi kepada Allah, memiliki integritas, terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, dan memberikan manfaat bagi kehidupan,” ujar Dikdik.
Pandangan tersebut menjadi penting karena dunia setelah kampus tidak selalu berjalan sesuai dengan apa yang telah dipelajari di bangku kuliah.
Perubahan teknologi dapat membuat suatu keterampilan menjadi usang, sementara kebutuhan dunia kerja terus bergerak.
Oleh karena itu, seorang sarjana perlu memiliki satu kebiasaan penting: tidak berhenti belajar.
Kompetensi yang diperoleh selama kuliah perlu terus diperbarui. Kemampuan beradaptasi, membaca perubahan, membangun jejaring, dan mengembangkan diri menjadi bagian dari perjalanan setelah seseorang mendapatkan gelar akademik.
Di sinilah perspektif Al-Islam dan Kemuhammadiyahan memberikan penekanan yang berbeda. Ilmu tidak berhenti sebagai pencapaian pribadi. Ilmu memiliki dimensi pengabdian.
Semakin luas pengetahuan dan kemampuan seseorang, semakin besar pula ruang yang dapat digunakan untuk memberikan kontribusi.
Dengan ilmu, seseorang bukan hanya dapat memperbaiki kehidupannya sendiri, tetapi juga membantu orang lain dan ikut menjawab persoalan yang muncul di tengah masyarakat.
Bagi Dikdik, orientasi tersebut penting agar kecerdasan dan keahlian tidak berakhir sebagai modal mengejar kesuksesan pribadi semata.
Ilmu perlu diarahkan kepada Allah dan diterjemahkan menjadi tindakan yang memberi manfaat.
Pembahasan mengenai masa depan sarjana kemudian dilihat dari sisi yang lebih luas oleh Wakil Dekan Fakultas Agama Islam UM Bandung Dr Yudi Daryadi MAg.
Yudi mengajak para calon lulusan memahami bahwa pendidikan memang memiliki hubungan dengan peluang kehidupan.
Semakin tinggi pendidikan yang ditempuh, semakin besar pula peluang seseorang memperoleh pekerjaan, pendapatan, dan kualitas hidup yang lebih baik.
“Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, semakin besar peluangnya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, penghasilan yang lebih tinggi, dan kualitas hidup yang lebih layak,” ujar Yudi.
Namun, pendidikan bukanlah tiket otomatis menuju kesejahteraan. Ada banyak faktor lain yang ikut menentukan bagaimana seseorang menjalani kehidupannya setelah memperoleh gelar.
Kondisi sosial ekonomi, keluarga, gender, lokasi tempat tinggal, kesempatan kerja, hingga akses terhadap layanan publik dapat memengaruhi hubungan antara pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan kualitas hidup.
Untuk menjelaskan realitas tersebut, Yudi mengulas sejumlah perspektif dalam kajian pendidikan dan kesejahteraan.
Di antaranya Human Capital Theory dari Gary S. Becker, Signaling Theory dari Michael Spence, perspektif Pierre Bourdieu, serta Capability Approach yang dikembangkan Amartya Sen.
Berbagai perspektif itu memperlihatkan bahwa pendidikan memang dapat memperbesar peluang seseorang untuk meningkatkan kesejahteraan. Namun, gelar pendidikan tidak secara otomatis mengubah kehidupan seseorang.
Setelah lulus, masih ada pekerjaan lain yang harus dilakukan. Kompetensi perlu dikembangkan, jejaring perlu diperluas, peluang perlu dibaca, dan kemampuan beradaptasi harus terus diasah.
Oleh karena itu, Yudi mengingatkan para calon sarjana UM Bandung agar tidak berhenti belajar hanya karena telah memperoleh gelar S1.
Jika memiliki kesempatan, pendidikan dapat dilanjutkan ke jenjang berikutnya dengan memanfaatkan berbagai program beasiswa yang tersedia.
“Jangan berhenti belajar setelah mendapatkan gelar sarjana. Kalau ada kesempatan, lanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya dan manfaatkan berbagai beasiswa yang tersedia,” ungkap Yudi.
Pada akhirnya, BAPS tidak hanya menjadi ruang pembekalan menjelang wisuda.
Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi semacam jeda untuk melihat kembali perjalanan pendidikan yang telah ditempuh dan membayangkan perjalanan yang akan dimulai.
Sebab, setelah toga dikenakan dan gelar melekat di belakang nama, pertanyaan terpenting bukan lagi sekadar tentang apa yang telah dipelajari, tetapi apa yang akan dilakukan dengan ilmu tersebut.
Menjadi sarjana berarti memasuki fase baru untuk terus belajar, memperdalam keahlian, membangun jejaring, beradaptasi dengan perubahan, sekaligus mencari ruang untuk berkontribusi.
Pada titik itulah pendidikan menemukan maknanya. Bukan hanya ketika seseorang menjadi lebih pintar karena ilmu yang dimiliki.
Namun, ketika ilmu tersebut membuat kehidupannya semakin berarti dan memberi manfaat bagi orang lain.***(FA/FK)
- Penulis: Feri Anugrah
