Hidup Sederhana Bukan Berarti Kekurangan, Begini Cara Menemukan Keberlimpahan
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
- visibility 53
- comment 0 komentar
- print Cetak

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UM Bandung Yudi Haryadi (Sumber: Humas UM Bandung).***
GENHALAL.ID, Bandung — Banyak orang mengira hidup berkelimpahan berarti memiliki banyak uang, rumah bagus, kendaraan mewah, atau mampu memenuhi hampir semua keinginan.
Padahal, dalam kehidupan seorang Muslim, keberlimpahan memiliki makna yang jauh lebih luas: hati yang merasa cukup, rezeki yang berkah, hidup yang tenang, dan apa yang dimiliki mampu memberi manfaat bagi orang lain.
Pesan itulah yang disampaikan Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Yudi Haryadi SE MM dalam kajian Gerakan Subuh Mengaji Aisyiyah Jawa Barat pada Selasa (01/09/2026).
Mengusung tema “Hidup Sederhana tapi Berkelimpahan”, Yudi mengajak umat Islam untuk melihat kembali makna kekayaan.
Menurutnya, ukuran keberlimpahan tidak semestinya berhenti pada jumlah harta yang dimiliki.
Namun, perlu dilihat dari kekayaan hati, keberkahan rezeki, ketenteraman hidup, dan manfaat yang dapat diberikan kepada sesama.
“Cara pandang ini menjadi penting di tengah kehidupan modern yang sering membuat seseorang mudah membandingkan dirinya dengan orang lain. Ukuran keberhasilan akhirnya tidak jarang bergeser menjadi soal seberapa banyak yang dimiliki, apa yang bisa dibeli, atau seperti apa gaya hidup yang ditampilkan,” ujar Yudi.
Menurutnya, memiliki banyak harta tidak otomatis membuat seseorang hidup lebih tenang.
Sebaliknya, seseorang bisa memiliki penghasilan besar dan berbagai fasilitas. Namun, tetap merasa kekurangan apabila keinginannya terus bertambah tanpa batas.
Oleh karena itu, kesederhanaan bukan sekadar soal mengurangi pengeluaran.
Kesederhanaan merupakan kemampuan untuk mengenali kebutuhan, mengendalikan keinginan, dan menggunakan harta secara proporsional.
Dengan begitu, seseorang tidak mudah terjebak dalam gaya hidup konsumtif hanya demi mengikuti standar kehidupan orang lain.
Di sinilah kesederhanaan justru dapat menjadi sumber keberlimpahan.
Ketika seseorang mampu mengendalikan keinginannya, rezeki yang dimiliki dapat diarahkan untuk hal-hal yang lebih penting.
Misalnya memenuhi kebutuhan keluarga, menyiapkan masa depan, beribadah, membantu sesama, hingga menghadirkan manfaat bagi lingkungan.
Dalam perspektif ekonomi syariah, kata Yudi, rezeki juga tidak berhenti pada persoalan bagaimana seseorang memperoleh penghasilan.
Ada amanah yang melekat di dalamnya, yakni bagaimana harta tersebut digunakan secara baik, tidak berlebihan, serta mampu memberi kemanfaatan.
Dengan demikian, mengelola keuangan bukan hanya persoalan menghitung pemasukan dan pengeluaran.
Mengelola rezeki juga merupakan bagian dari ikhtiar menjaga keberkahan hidup.
Penghasilan yang dikelola secara bijak dapat membuat kebutuhan lebih terencana sekaligus membuka ruang untuk berbagi.
“Kesederhanaan bukan berarti menolak kemajuan atau harus hidup serba kekurangan. Justru, kesederhanaan dapat menjadi cara untuk membangun kehidupan yang lebih terarah karena seseorang mengetahui apa yang benar-benar dibutuhkan dan untuk apa rezekinya digunakan,” imbuh Yudi.
Bagi keluarga, pesan tersebut bisa diterapkan melalui kebiasaan yang sederhana tetapi berdampak besar.
Mulai dari membuat prioritas kebutuhan, tidak mudah tergoda membeli sesuatu yang tidak diperlukan, mengendalikan gaya hidup, menggunakan penghasilan secara bertanggung jawab, hingga membiasakan diri menyisihkan sebagian rezeki untuk berbagi.
Lebih jauh, kesederhanaan juga mengajarkan qanaah, yakni kemampuan untuk merasa cukup atas karunia Allah tanpa berhenti berikhtiar.
Rasa cukup bukan berarti pasrah atau kehilangan semangat untuk maju, melainkan menjaga hati agar tidak selalu merasa kurang hanya karena mengejar sesuatu yang belum dimiliki.
Yudi menegaskan, kaya secara materi dan kaya secara hati merupakan dua hal yang berbeda. Harta adalah nikmat sekaligus amanah.
Nilainya akan menjadi semakin berarti ketika harta tersebut tidak hanya dinikmati sendiri, tetapi menghadirkan kebaikan bagi keluarga dan masyarakat.
“Rezeki yang berkah bukan sekadar membuat hidup terasa cukup, melainkan mampu menjadi jalan menghadirkan manfaat bagi keluarga, sesama, dan lingkungan,” tandasnya.
Pada akhirnya, hidup sederhana bukan berarti membatasi diri untuk menikmati kehidupan.
Justru, kesederhanaan membantu seseorang menempatkan segala sesuatu secara proporsional: bekerja dengan sungguh-sungguh, menikmati rezeki tanpa berlebihan, memenuhi kebutuhan dengan bijak, dan berbagi ketika memiliki kelebihan.
Sebab, ukuran keberlimpahan bukan hanya tentang berapa banyak yang masuk ke rekening, tetapi seberapa banyak kebaikan yang dapat keluar darinya.
Rezeki yang dikelola dengan baik tidak berhenti sebagai angka atau kepemilikan.
Namun, berubah menjadi pendidikan bagi anak, kebutuhan keluarga yang terpenuhi, sedekah bagi yang membutuhkan, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya.
Dengan cara pandang itu, hidup sederhana justru menghadirkan kekayaan yang sering kali tidak bisa dibeli dengan uang: hati yang tenang, kebutuhan yang terkendali, rezeki yang berkah, dan kehidupan yang dipenuhi manfaat.
Sebab, bagi seorang muslim, keberlimpahan bukan sekadar tentang seberapa banyak Allah menitipkan rezeki.
Namun, seberapa baik amanah itu dikelola dan seberapa luas kebaikan yang lahir darinya.***(FA)
- Penulis: Feri Anugrah
