Dari Desa Santosa, KKN UM Bandung Menyalakan Semangat Belajar Al-Qur’an
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Senin, 31 Agt 2026
- visibility 41
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID, Bandung — Sebuah langkah sederhana untuk mendekatkan masyarakat dengan Al-Qur’an hadir dari Desa Santosa, Kecamatan Kertasari, Kabupaten Bandung.
Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Bandung menggelar Training for Teacher (TFT) Baca Al-Qur’an dan Baca Latin dengan metode Al-Barqy, Kamis (27/8/2026), di Aula Desa Santosa.
Pelatihan ini mempertemukan para penggiat pendidikan dan Al-Qur’an di tingkat desa.
Pesertanya terdiri atas guru TK, guru ngaji madrasah dan SD, pimpinan majelis taklim, hingga pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM).
Kepala Desa Santosa Tata Witarsa menyambut baik kegiatan tersebut.
Menurutnya, kemampuan membaca Al-Qur’an dan aksara latin merupakan bekal penting agar masyarakat dapat belajar dan mengakses pengetahuan secara lebih luas.
“Kami berharap metode ini bisa diterapkan langsung kepada masyarakat, khususnya bagi yang belum bisa membaca Al-Qur’an dan latin. Dengan kemampuan membaca, mereka dapat mengakses berbagai ilmu dan pengetahuan yang lebih luas,” ungkapnya.
Kegiatan tersebut menghadirkan dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) UM Bandung Rahmat Alamsyah sebagai pemateri.
Ia menjelaskan bahwa pelatihan ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan membaca, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mendukung penanganan Anak Tidak Sekolah (ATS) di Jawa Barat.
Menurut Rahmat, sinergi antara pemerintah daerah dan KKN UM Bandung diarahkan untuk membantu mendata anak yang tidak sekolah, putus sekolah, maupun yang tidak melanjutkan pendidikan.
Dari data tersebut, diharapkan dapat lahir langkah pendampingan yang lebih tepat.
Salah satu pendekatan yang diperkenalkan dalam pelatihan ini adalah metode Al-Barqy.
Nama Al-Barqy berarti “kilat”, sesuai dengan konsep pembelajarannya yang menggunakan asosiasi kalimat untuk membantu peserta mengenali dan mengingat huruf dengan lebih mudah.
“Metode ini dirancang agar peserta bisa cepat mengerti dan membaca. Bahkan diproyeksikan hanya membutuhkan waktu delapan jam untuk bisa membaca Al-Qur’an dan enam jam untuk bisa membaca latin atau koran,” jelas Rahmat.
Bagi para pendidik di desa, kemampuan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal untuk membantu lebih banyak masyarakat.
Ilmu yang diperoleh peserta tidak berhenti di ruang pelatihan. Namun, dapat diteruskan kepada anak-anak, keluarga, dan warga di lingkungan masing-masing.
“Pelatihan metode Al-Barqy ini fokus pada kemampuan belajar baca Al-Qur’an dan baca latin sebagai penunjang utama keberhasilan program penanganan ATS di lapangan,” terangnya.
Melalui kegiatan tersebut, UM Bandung berharap gerakan literasi Al-Qur’an dan aksara latin dapat tumbuh dari masyarakat sendiri.
Para peserta diharapkan menjadi penggerak yang membantu membuka akses belajar bagi warga yang masih menghadapi keterbatasan kemampuan membaca.
“Kami ingin hadirnya program ini dapat mewujudkan Jawa Barat yang bebas buta baca Al-Qur’an dan latin sekaligus merangkul kembali anak-anak agar mendapatkan hak pendidikannya,” tandas Rahmat.
Ketua MUI Kecamatan Kertasari Asep Heri Irawan bersama masyarakat setempat turut hadir dan memberikan apresiasi terhadap kegiatan tersebut.
Menurutnya, program seperti ini memberikan manfaat langsung karena menyentuh kebutuhan pendidikan dan keagamaan masyarakat.
Menariknya, sebagian besar proses kegiatan dipersiapkan langsung oleh mahasiswa KKN.
Mulai dari pendataan peserta, komunikasi dan surat-menyurat dengan pemerintah desa serta MUI, hingga pelaksanaan pelatihan dilakukan secara gotong royong oleh mahasiswa.
Sementara itu, kebutuhan buku, konsumsi, dan akomodasi kegiatan diperoleh melalui dukungan para donatur.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat dapat tumbuh dari kepedulian banyak pihak.
Dari Desa Santosa, kegiatan ini membawa pesan sederhana: ilmu akan semakin bermakna ketika dibagikan.
Ketika kemampuan membaca Al-Qur’an dan pengetahuan dapat diteruskan dari satu orang kepada orang lain, manfaatnya pun dapat tumbuh jauh melampaui ruang pelatihan.***(FK/FA)
- Penulis: Feri Anugrah
