Riset Dosen UM Bandung Ungkap Media Sosial Ikut Membentuk Identitas Kesalehan
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Senin, 24 Agt 2026
- visibility 34
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID, Bandung – Media sosial kini menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk menampilkan dan memaknai keberagamaan.
Fenomena ini diteliti Femi Fauziah Alamsyah, dosen Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung, dalam disertasi doktornya.
Femi mengangkat judul “Identitas Kesalehan Populer Artis Hijrah di Media Sosial” dengan mengamati akun Instagram Shireen Sungkar, Larissa Chou, Ricky Harun, dan Arie Untung.
Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode netnografi terhadap 40 konten berupa foto, video, caption, dan komentar pengikut.
Disertasi tersebut dipertahankan dalam sidang terbuka promosi doktor pada Sabtu, 22 Agustus 2026, di Aula Selatan Gedung Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Femi menempuh Program Studi Studi Agama-Agama, konsentrasi Agama dan Media.
Kesalehan Tak Hanya Ditampilkan
Hasil penelitian Femi menunjukkan bahwa identitas kesalehan artis hijrah di media sosial tidak hanya dibangun melalui simbol agama.
Visual, cerita kehidupan sehari-hari, dan pesan emosional juga berperan dalam membuat konten keagamaan lebih dekat dengan pengikut.
“Ketika ditampilkan melalui media sosial, simbol-simbol Islam memperoleh nilai tertentu atau sign value yang kemudian dipahami, dibicarakan, dan dinegosiasikan oleh para pengikut,” ujar Femi.
Interaksi pengikut juga menjadi bagian penting dalam pembentukan makna tersebut.
Komentar dan percakapan digital dapat menjadi ruang untuk berbagi pengalaman, memberikan validasi sosial, serta membentuk pemahaman keagamaan.
Dengan demikian, media sosial tidak hanya menjadi tempat untuk mempublikasikan aktivitas keagamaan.
Ruang digital juga ikut membentuk identitas dan pengalaman keberagamaan melalui interaksi antara figur publik dan pengikut.
Konsep Kesalehan Sirkulatif
Salah satu kontribusi penelitian Femi adalah konsep kesalehan sirkulatif (circulative piety).
Konsep ini menjelaskan bahwa kesalehan dapat bergerak melalui konten, simbol, respons, dan interaksi pengguna sehingga pemaknaannya terus berkembang di ruang digital.
Penelitian ini juga menghasilkan model sirkulasi kesalehan populer di media sosial, yang menjelaskan bagaimana simbol dan narasi keagamaan diproduksi, ditampilkan, mendapat respons, lalu kembali beredar melalui interaksi digital.
Menurut Femi, temuan tersebut dapat memperkaya kajian komunikasi dan agama sekaligus membantu memahami perubahan cara penyampaian pesan keagamaan di era media sosial.
Pesan agama kini tidak hanya berlangsung satu arah, tetapi berkembang melalui percakapan dan partisipasi audiens.
“Bagi kajian Komunikasi dan Penyiaran Islam, penelitian ini menunjukkan semakin pentingnya memahami media sosial sebagai ruang baru dalam komunikasi keagamaan,” katanya.
Temuan ini juga dapat menjadi bekal bagi masyarakat untuk lebih kritis dalam memahami konten keagamaan di media sosial.
Kesalehan yang tampil secara digital tidak hanya perlu dilihat dari simbolnya, tetapi juga dari konteks, narasi, interaksi, dan makna yang terbentuk di baliknya.
Sidang promosi doktor Femi dipimpin Dindin Solahudin sebagai ketua sidang dan M Yusuf Wibisono sebagai sekretaris.
Tim promotor terdiri atas Agus Ahmad Safei, Moch Fakhruroji, dan Dadang Darmawan.
Tim oponen ahli terdiri atas Enjang Muhaemin, Aang Ridwan, dan Try Riduwan Santoso.
Sidang tersebut turut dihadiri Asep Saeful Muhtadi sebagai guru besar.***(FA)
- Penulis: Feri Anugrah
