Lima Fondasi Kehidupan Menurut Islam di Tengah Gempuran Revolusi Industri 5.0
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
- visibility 27
- comment 0 komentar
- print Cetak

BANDUNGMU.COM, Bandung – Pesatnya perkembangan teknologi dan hadirnya Revolusi Industri 5.0 membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia.
Namun, di tengah kemajuan tersebut, manusia dituntut untuk tidak kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan.
Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Muhammadiyah Bandung Hendar Riyadi menyebut Islam memiliki lima pilar penting yang dapat menjadi fondasi kehidupan manusia di tengah derasnya perkembangan zaman.
Kelima pilar tersebut adalah ketuhanan, pemuliaan manusia, perdamaian, keadilan, dan ihsan.
Pilar pertama adalah ketuhanan. Menurut Hendar, hubungan manusia dengan Allah SWT merupakan fondasi utama agar manusia tidak kehilangan arah dalam menjalani kehidupan.
Ketika manusia semakin larut dalam kemajuan teknologi, orientasi kehidupan tetap perlu dikembalikan kepada nilai-nilai ketuhanan.
“Ketika manusia melupakan Allah, ia juga bisa melupakan potensi-potensi kebaikan dalam dirinya,” ujar Hendar, seperti dikutip dari channel Lakara Studio, Selasa (8/9/2026).
Pilar kedua adalah pemuliaan manusia atau takrimul insan. Hendar menjelaskan bahwa Allah SWT memberikan manusia berbagai potensi, seperti akal, ilmu, bahasa, serta kemampuan untuk menciptakan dan mengembangkan teknologi.
Karena itu, teknologi semestinya menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas dan martabat manusia, bukan menjadi alat yang justru merendahkan atau menghancurkan kehidupan.
“Kemajuan teknologi semestinya tidak boleh merendahkan martabat manusia, tetapi justru harus semakin memuliakannya,” tegas Hendar.
Pilar ketiga adalah perdamaian dan perbaikan atau al-islah wa as-silmi. Islam mendorong manusia untuk menghadapi perbedaan dengan cara-cara damai sekaligus berupaya memperbaiki hubungan yang mengalami keretakan.
Di tengah kehidupan sosial yang semakin kompleks, nilai perdamaian menjadi semakin penting agar kemajuan teknologi tidak justru memperbesar konflik, perpecahan, maupun permusuhan.
Pilar keempat adalah keadilan atau al-‘adalah. Hendar menilai keadilan merupakan salah satu inti ajaran Islam yang harus diwujudkan dalam berbagai ruang kehidupan, mulai dari keluarga, masyarakat, dan negara hingga hubungan antarbangsa.
Keadilan, menurutnya, menjadi prinsip penting untuk menjaga keseimbangan dan memastikan setiap manusia mendapatkan hak serta perlakuan yang semestinya.
“Keadilan adalah jantung agama dan menjadi penjamin keseimbangan dalam kehidupan masyarakat,” katanya.
Pilar kelima adalah ihsan, yaitu berbuat baik dengan penuh ketulusan, termasuk ketika seseorang mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari orang lain.
Ihsan mengajarkan manusia untuk tetap menghadirkan kesabaran, memaafkan, kasih sayang, dan kebaikan dalam berbagai situasi.
Nilai tersebut menjadi pengingat bahwa kecanggihan teknologi tidak akan berarti apabila tidak diiringi dengan akhlak dan kepedulian terhadap sesama.
Hendar menegaskan, kelima pilar tersebut tidak semestinya berhenti sebagai gagasan atau slogan. Nilai-nilai tersebut harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Kelima pilar ini jangan hanya menjadi slogan, tetapi harus diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan masyarakat,” pesannya.
Pada akhirnya, kemajuan sebuah zaman tidak semata-mata diukur dari seberapa canggih teknologi yang berhasil diciptakan.
Kemajuan juga harus tercermin dari semakin kuatnya peradaban, akhlak, dan nilai kemanusiaan yang dibangun.
Ketuhanan, pemuliaan manusia, perdamaian, keadilan, dan ihsan menjadi lima pilar penting agar perkembangan teknologi benar-benar menghadirkan kemaslahatan.
Sebab, teknologi seharusnya membuat manusia semakin maju tanpa kehilangan jati dirinya sebagai makhluk yang beradab dan bermartabat.***(FA)
- Penulis: Feri Anugrah
