Bukit Jengkoang Makin Ramah Wisatawan, Mahasiswa KKN Hadirkan Rute dan Informasi Digital
- account_circle Feri Anugrah
- calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
- visibility 53
- comment 0 komentar
- print Cetak

GENHALAL.ID, Batu — Bayangkan sudah sampai di sebuah kawasan dengan udara sejuk, hamparan kebun, dan pemandangan yang bikin ingin berlama-lama. Namun, ada satu masalah kecil: jalannya ke mana?
Persoalan seperti itu ternyata masih ditemui wisatawan yang ingin berkunjung ke Bukit Jengkoang dan Puthuk Gede, Desa Bulukerto, Kota Batu, Jawa Timur.
Destinasinya menarik, potensi alamnya ada, tetapi informasi akses dan titik lokasi belum selalu mudah ditemukan.
Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KKN Muhammadiyah Aisyiyah Kelompok 2 mencoba menghadirkan solusi yang cukup sederhana, tetapi terasa manfaatnya.
Pada Minggu (23/8/2026), mereka memperkenalkan program Rute Edu-Tracking dan Media Informasi Wisata.
Bukan cuma memasang papan penunjuk arah, mahasiswa juga menambahkan barcode yang bisa dipindai wisatawan.
Sekali scan, pengunjung bisa mendapatkan informasi digital tentang kawasan Bukit Jengkoang sekaligus petunjuk menuju lokasi.
Ada pula website khusus yang dibuat untuk melengkapi informasi wisata.

Di dalamnya terdapat informasi kawasan, rute perjalanan yang terhubung dengan peta digital, hingga berbagai potensi lokal yang ada di sekitar Bukit Jengkoang.
Jadi, wisatawan tidak hanya dibantu menemukan jalan.
Mereka juga diajak mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat yang tinggal dan bekerja di kawasan tersebut.
Salah satu yang diperkenalkan adalah hasil pertanian warga.
Bukit Jengkoang ternyata punya “dapur” yang cukup lengkap: ada wortel, kol, brokoli, tomat, hingga cabai yang menjadi bagian dari hasil bumi petani setempat.
Informasi tentang hasil bumi itu kemudian ditampilkan melalui papan informasi di kawasan wisata dan dikembangkan pula dalam bentuk digital.
Dengan begitu, wisatawan bisa tahu bahwa di balik pemandangan hijau yang mereka nikmati, ada aktivitas pertanian warga yang terus berjalan.
Ketua Kelompok Tani Hutan Wono Mulyo, Narto, mengatakan pertanian di kawasan tersebut sangat dipengaruhi kondisi musim.
Saat kemarau, petani yang tidak memiliki akses air harus menunggu hujan sebelum kembali mengolah lahannya.
“Hasil bumi yang dihasilkan di Bukit Jengkoang antara lain wortel, kol, brokoli, tomat, cabai. Ketika musim kemarau seperti ini, petani yang tidak punya akses air biasanya tidak menanam itu sampai nunggu waktu hujan,” jelas Narto.
Bagi wisatawan, papan penunjuk arah yang dipasang mahasiswa juga menjadi kabar baik.
Sumardi, salah seorang petani di kawasan Bukit Jengkoang, menilai kehadiran penanda tersebut bisa membuat wisatawan yang baru pertama kali datang lebih mudah menemukan lokasi.
“Penanda arah ini membantu memudahkan wisatawan yang datang dan sama sekali tidak keberatan dengan program ini,” ujar Sumardi.
Namun, ada satu hal yang tidak kalah penting dari menemukan jalan, yakni bagaimana menjaga tempat yang sudah ditemukan.
Semakin banyak orang datang, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan Bukit Jengkoang dan Puthuk Gede tetap asri.
Sumardi pun mengingatkan wisatawan agar tidak merusak alam selama berkunjung.
Menurutnya, keindahan kawasan tersebut merupakan aset yang harus dijaga bersama.
“Himbauan untuk wisatawan yang datang ke Puthuk Gede yakni agar tetap menjaga kelestarian alam dan tidak merusak alam yang ada di Bukit Jengkoang,” jelas Sumardi.
Menariknya, pengalaman berwisata di kawasan ini tidak hanya menawarkan panorama alam.
Puthuk Gede juga memiliki layanan wisata Jeep yang dikelola warga setempat.
Artinya, semakin banyak wisatawan yang datang dengan cara yang tepat, semakin besar pula peluang ekonomi yang bisa dirasakan masyarakat.
Ketua Kelompok 2 KKN, Muhajir, mengatakan program tersebut memang dirancang sebagai bentuk kontribusi mahasiswa untuk membantu Desa Bulukerto mengenalkan potensi yang dimilikinya.
“Harapan dari saya terkait program kerja ini, semoga bisa bermanfaat bagi Desa Bulukerto dan tiada lain kami ingin membantu dengan semampu kami,” jelas Muhajir.
Pada akhirnya, inovasi ini memang tidak terlihat rumit. Ada papan arah, barcode, dan website.
Namun, dari hal-hal sederhana itu muncul manfaat yang cukup luas.
Misal wisatawan lebih mudah menemukan lokasi, potensi pertanian lebih dikenal, peluang ekonomi warga ikut terbuka, dan pesan untuk menjaga lingkungan bisa terus disampaikan.
Bukit Jengkoang pun seolah mendapatkan “pemandu baru”.
Bukan pemandu yang berjalan di samping wisatawan, melainkan informasi yang membantu mereka menemukan jalan dengan lebih mudah.
Di saat yang sama, wisatawan diajak mengenal potensi desa dan hasil bumi masyarakat setempat.
Sebab, di balik indahnya sebuah destinasi, ada warga yang menggantungkan harapan dan kehidupan pada tempat tersebut.
Lewat Rute Edu-Tracking dan Media Informasi Wisata, mahasiswa KKN Muhammadiyah Aisyiyah Kelompok 2 membuktikan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak harus selalu berupa program besar.
Kadang, membuat sebuah tempat lebih mudah ditemukan, lebih mudah dikenali, dan lebih mudah dijaga sudah menjadi kontribusi yang berarti.***(Neneng Solihat)
- Penulis: Feri Anugrah
